A Glance of My 2019 Hajj Travel (Challenges and Notes)

“The essence of the Hajj is Arafat. On the ninth day of the Hajj month all pilgrims gather on the great Plain of Arafat to offer their deepest heartfelt prayers. It’s a reminder of Resurrection, when everyone will stand “naked” before God on Judgement Day and nothing counts but our actions and their effects upon our soul’.”

Kristiane Backer, From MTV to Mecca: How Islam Inspired My Life
Masjidil Haram (2019 Hajj)

I went to Hajj last year (2019)

This is what it was like

I remember the utter emotion—a combination of mettle and strengthened happiness. I wasn’t sure how I would feel when I saw the Kaaba. And I was touched, so that tears came to my eyes while keeping my mother’s in-law wheelchair tightly. Suddenly, I was in complete wonder and joy. Hajj is my completion task as a Muslim.

I was considering all the hajj history in this same spot, (the story of Prophet Ibrahim and his family: Ismail and Hajar) and the footsteps of so many previous persons with their amazing stories that had traveled before by camel, foot. My mind jumped to the most influenced person in the world, Muhammad (peace be upon him).

And now, many airlines, services, new infrastructures, and new systems make our hajj easier and comfortable. My heart filled with joy and a surreal sense of peace.

I stood up in front of the Kaaba, the center of Islam, and it signified a place of unity for Muslims of background or race and ethnicity. I felt incredibly blessed to be among a fraction of the 2 millions Muslims who got this opportunity to be here.

Here are some of recommendation from the challenges and notes of my 2019 Hajj in the context of Indonesian pilgrims:

  1. More consider and specific attention to the high-risk groups are needed, such as person with special conditions or disable group or who are older than 60 years or who have health conditions like lung or heart disease, diabetes.
  2. More consider and good intervention to the changes of mental health condition is important. Most of the Indonesian pilgrims, Hajj is the first flight and long travel that they ever have.
  3. For Indonesian pilgrims, the regular hajj is too long (at least 40 days should stay in Makkah and Medina). It also affects their whole condition (extra foods, clothes, money, weather).

To be continued….

It is so sad the 2020 Hajj will be postponed due to the COVID-19 pandemic.

I know, it not easy for many people who already made long time preparation for this year Hajj.

I remember, last year (2019), one week before our flight, my mother in-law got serious health condition. She hospitalised for 5 days. At the time, I thought that we should cancel our travel.

Finally, we decided to only change the flight to the last scheduled group in the same year after my mother in-law health condition better.

Masjidil Haram (2019 Hajj)

AKSARA KAU DAN AKU, DULU DAN KINI

Meski tenggorokan mereka meragu
Menukik, menajam, bahkan menoreh pada yakinmu
Pada semua aksara yang hanya kau, aku yang paham
Aksara yang kita rangkai pada cinta, tatihan waktu.

Tak perlulah sedu sedan itu, meski waktu terasa melambat
Saat hampir semua mata awas pada manusiawi kita
Nanar matamu mengundang kembali aksara kita
Melewati semuanya, bersamamu jauh lebih bernilai

Sungguh, kita tak perlu mengeluarkan belatih
Tak perlu pula pula kita memanggul laras saat semua dirampas
Ya ini harus dilalui agar aksara kita menyempurna
Menyublim bersama mendung negeri ini

Kau, aku dan aksara kita yang menggores cerita
Tentang sebuah negeri yang indah
Sebuah oase surga di tanah yang menjauh
Saatnya menyuburkan rindu pada hamparan tanah ini
Jadi, aksara kau dan aku, dulu dan kini agar bukan hanya kita yang mengerti
Bahkan sekali lagi saat masih saja tenggorokan mereka meragu.

PURNAMA DI GAMPONG LAMTEUNGOH

 

Purnama di Gampong[1] Lamteungoh belum sempurna, bulatannya masih menyisakan cekungan. Cahayanyapun belum seterang purnama ramadhan tahun lalu. Sisa-sisa genangan air memendarkan cahaya yang ngilu, membentuk siluet-siluet barak yang dihuni lebih dari delapan puluh kepala keluarga yang tidak utuh lagi anggotanya akibat tsunami. Genangan air itu sudah memasuki minggu kedua sejak meugang[2].

Cut Putroe melintir beberapa ranup[3] yang dibelinya dari penjual di samping mesjid Raya Baiturrahman siang tadi . Kebiasaan memakan ranup tradisi sejak turun temurun. Untuk memperkuat gigi, begitu pesan Nek Ti. Cut Putroe membetulkan letak jilbabnya. Wajah perempuan seperempat abad itu diterpa cahaya purnama, menghasilkan pesona yang dalam, mulutnya semakin merekah saat campuran daun sirih, kapur dan gambir mulai membasahi bibirnya. Sebuah pesona begitu alami milik wanita Aceh. Tak heran jika pesona inilah menghantarkan Cut Putroe pada pilihan yang sulit.

“Peu mantong na ranup?”[4] Nek Ti muncul dari dalam barak 11C menghampiri Cut Putroe.

“Masih Nek!” Cut Putroe memberikan ranup kepada Nek Ti.

Berdua mereka duduk di depan barak menikmati malam. Desauan angin dari reruntuhan puing-puing bangunan mendendangkan lagu pilu. Anyir lumpur tsunami masih saja hinggap pada reseptor penciuman. Waktu belum mampu melenyapkan bau dari berbagai macam kekejian. Anyir itupun telah mengundang jeritan dan nyanyian pilu.

Tanpa ada ketentuan atau peraturan, selepas isya tubuh-tubuh penghuni barak lebih memilih meringkik dalam dinding yang lantainya sudah mulai berlubang menyerupai bola mata hitam yang mengawasi setiap gerak gerik mereka. Lolongan anjing sahut menyahut menyambut purnama, menambah kesempurnaan malam di Gampong Lamteungoh. Gampong yang semakin dekat dengan bibir pantai. Laut telah memangsanya dengan ganas.

Cut Putroe dan Nek Ti larut dalam kekhusyukan mengunyah ranup dengan rahang berderak. Pikiran mereka mengembara ke suatu dimensi saat dimana keluarga besar mereka masih utuh. Dua Janda berbeda jaman, harus kehilangan suami dan anak. Beruntung Nek Ti menunaikan ibadah haji saat tsunami hadir. Sementara Cut Putroe harus bertarung antara hidup dan mati di antara ribuan nyawa yang meregang.

“Apa keputusanmu Putroe?” Nek Ti memecah kesunyian.

“Belum ada Nek.”

Cut Putroe menghabiskan kunyahan terakhir ranup. Bibirnya benar-benar sudah merah, berkilau-kilau diterpa cahaya.

“Tadi ada masuk lamaran baru, Pak Burhan! Tentu Putroe sudah kenal.”

“Tapi Nek, Putroe belum siap!”

“Sampai kapan?”

“Entahlah.”

Putroe beranjak bersandar di serambi barak, menghindar dari tatapan Nek Ti. Ia memandang ke arah pohon kelapa. Satu-satunya pohon di Gampong Lamteungoh yang masih kokoh berdiri. Di pohon kelapa itu pula bayang-bayang Teuku Ismail sering muncul melambai-lambaikan tangan kepadanya. Menghasilkan kenikmatan baru bagi Cut Putroe untuk melepas rindu pada suaminya. Beberapa kali Cut Putroe memenuhi ajakan Teuku Ismail. Setiap mendekat, bayangan itu hilang, berganti nyanyian kematian. Nyanyian dari orkestra perpaduan hempasan ombak dan angin malam. Dialog-dialog jiwa menggelembungkan asa kehidupan baru bagi sebongkah nyawa pria yang belum genap setahun menikahinya.

Sebidang tanah kuburan masal bagi ribuan jasad kaku hanyalah bongkahan tanah yang tidak memberikan jawaban untuk Cut Putroe. Kesaksian Fadhil yang mengatakan bahwa Teuku Ismail adalah salah seorang penghuni kuburan masal di antara tubuh-tubuh yang tidak utuh lagi. Itu hanya alasan bagi Fadhil untuk merebut kembali cinta yang pernah ditolaknya.

Lukisan kekecewaan tergambar jelas di wajah mulus Cut Putroe. Sedih karena sudah dua minggu ini bayangan Teuku Ismail tidak muncul, sejak puasa hari pertama. Pelepah pohon kelapa tetap saja menari-nari laksana seorang putri yang sedang menyambut raja. Namun sang raja tidak muncul-muncul.

Cut Putroe menarik nafas panjang menghembuskan kekesalan dan rasa kecewa yang mendalam. Nyak Ti kembali menghampiri dan menyentuh pundaknya.

“Sudahlah Putroe, ikhlaskan saja,” hibur Nek Ti. Sesaat mata mereka beradu namun detik kemudian sama-sama tertuju pada pohon kelapa. Nek Ti maklum akan kepedihan dan kehilangan yang dirasakan Cut Putroe. Satu-satunya cucu yang tersisa itu begitu menderita.

Namun yang dikhawatirkan Nek Ti bukan sekedar rasa kehilangan Cut Putroe, tapi lebih dari itu. Dampak sosial yang sudah muncul mengingat Gampong Lamtengoh sekarang adalah gampong yang dihuni oleh banyak lelaki yang sendirian. Bahkan Gampong Lamteungoh berubah menjadi gampong duda.

Bagaimana nasib Cut Putroe di tengah srigala jantan yang sudah berbulan-bulan tidak menemukan betina. Nek Ti geleng-geleng kepala. Belum lagi janda dan gadis yang tersisapun merasa Cut Putroe sebagai ancaman. Semua lelaki membicarakan janda kembang di tengah populasi kumbang dalam puncak birahi.

Sudah banyak duda dan perjaka yang ditolak Cut Putroe. Nek Ti sempat berfikir andai saja ada laki-laki itu yang mengalamatkan lamaran kepadanya, pasti dia tidak menolak. Namun pikiran itu cepat-cepat ditepisnya. Usia enam puluh lima tahun adalah usia yang tidak muda lagi. Namun apa salahnya menggantungkan asa di langit yang jauh. Begitu pikir Nek Ti menghibur diri.

“Putroe, tadi Cek Dah singgah ke mari,” Nek Ti memberi informasi.

“Mau cari perkara apa lagi janda itu?” tanya Cut Putroe.

“Hanya mengingatkan saja, jika kamu jangan mendekati Fadhil,” jelas Nek Ti sambil meludah ke tanah, sebagian cairan merah tumpah di anak tangga. Selanjutnya Nek Ti mengganti ranup dengan sebongkah tembakau yang dikeluarkannya dari gulungan kain.

“Ya sudah, besok saya akan menjumpainya dan menyelesaikan masalah kami.” Cut Putroe memberikan jawaban, sambil bersiap-siap masuk ke dalam barak.

“Tapi…,” Nek Ti menggantung suaranya

“Tapi apa Nek?” Tanya Cut Putroe mengehentikan langkahnya di depan pintu.

“Nyak Minah juga kemari tadi siang.”

“Ada urusan apa perempuan itu?”

“Supaya kamu tidak terlalu ramah dengan Pak Munir. Sebulan lagi mereka akan menikah,” Nek Ti menjelaskan sambil menggosok-gosokkan tembakau ke giginya.

“Sudahlah Nek, Putroe bingung. Padahal lelaki-lelaki itu yang mendekati Putroe,” bela Cut Putroe.

“Iya nenek tahu itu, makanya kamu harus bisa segera memutuskan.”

“Tapi Nek.”

“Nenek juga mengerti.” Nek Ti mengakhiri dialog malam itu. Kedua janda itu memasuki barak yang berukuran empat kali empat meter.

***

Purnama gampong Lamteungoh sudah sempurna. Cahayanyapun lebih terang dari sebelumnya. Kesunyian tengah malam hanya menyisakan bunyi jangkrik.

Cut Putroe menengadahkan kepalanya ke langit hitam, purnama tersenyum mengejek. Derai air matanya mendesak-desak keluar. Rekaman peristiwa tadi siang memenuhi memorinya. Nyak Minah, Cek Dah serta beberapa perempuan barak mendatanginya beramai-ramai. Menumpahkan segala kekesalan mereka pada Cut Putroe. Sumpah serapah berhamburan dari bibir mereka.

“Janda pungo[5] kamu putroe!” Cek Dah memaki Cut Putroe yang bersembunyi di daun pintu barak.

Teubit[6] hai perempuan jalang!” Suara Cek Dah nyaring di sambut riuh redah lima orang perempuan lain. Cut Putroe hanya berdiam diri di balik pintu. Jantungnya terasa melompat. Hujan cacian tak bisa dibendung telinganya. Kepanikan naik ke ubun-ubun. Kekesalannya memuncak, ia berteriak keluar barak dengan pisau tergenggam. Membuat kerumunan perempuan berhambuaran ketakutan. Keberanian mereka tiba-tiba sirna menyaksikan kemurkaan Cut Putroe

“Apa yang kamu mau, Putroe?” Nyak Minah ketakutan tersudut. Perempuan yang lain beramai-ramai melerai Cut Putroe. Keangkuhan mereka seketika lenyap berganti bujukan ketakutan.

“Ha…ha…ha….!” Cut Putroe tertawa nyaring. Bulu kuduk perempuan-perempuan itu naik. Mereka lari tunggang langgang seperti kambing yang di kejar hujan.

Cut Putroe kembali tersadar dari lamunannya. Matanya menembus kegelapan. Tapi kini Cut Putroe mendapatkan Gampong Lamteungoh tidak seramah dulu. Saat pertemuan pertama dengan Teuku Ismail pada sebuah kesenian rakyat. Teuku Ismail begitu lincah memainkan seudati [7].

Samar-samar terdengar tiupan serunee kalee[8], diiringi rampak rapa-i[9] yang di tabuh dengan ritmis. Cut Putroe memandang sekeliling. Berusaha mencari sumber suara, memasang telinga agar gelombang suara itu bisa terdengar. Purnama membuat sketsa berlian dari bibir pantai ke tengah laut. Cut Putroe mendapatkan suara itu. Ia berlari menuju pantai. Dilihatnya Teuku Ismail memakai baju putih dengan kain songket melekat di pinggang. Topi mayang bertengger di kepala dengan gerakannya lincah. Berkali-kali tangannya direntangkan. Selanjutnya dengan gerakan cepat di dekatkan ke dada sambil mengangkat kaki.

Seudati yang dimainkan Teuku Ismail begitu harmoni, kerlingan matanya menghentikan langkah Cut Putroe. Khawatir akan pengalaman sebelumnya. Setiap mendekat maka Teuku Ismail semakin menjauh. Cut Putroe memeluk lutut kemudian jemarinya mengenggam pasir mengikuti gerak seudati. Butiran pasir berhamburan dari sela-sela jarinya. Jari tengah dan telunjuknya bertemu, menghasilkan suara petikan dengan ritme teratur.

Suara serunee kalee semakin mengelus pendengaran, rapa-ipun ditabuh dengan cepat. Gerakan Teuku Ismail semakin lincah, berputar-putar. Kakinya menari-nari. Tangannya direntangkan melambai-lambai. Cut Putroe mendekat. Kali ini keyakinannya tumbuh bahwa Teuku Ismail tidak akan meninggalkannya. Ia menembus malam, tak dihiraukannya suara-suara dari belakang. Langkahnya pasti dan penuh keyakinan. Teuku Ismail masih menari-nari. Gerakan seudati nya semakin lues. Dingin merangkak di sela-sela kaki Cut Putroe. Semakin kakinya melangkah, Dingin merayap ke tubuhnya. Cut Putroe tersenyum Teuku Ismail berhasil diraihnya. Kerinduan yang hampir setahun dipendamnya.

“Oh.. Cut Bang Ismail… Jangan lagi membuatku memendam rindu” Cut Putroe tersenyum berkali-kali.

***

Purnama telah lenyap beberapa hari, namun Cut Putroe masih menyanyikan lagu tentang purnama. Lagu purnama di Gampong Lamteungoh. Purnama Gampong Lamteungoh lebih bulat dan bersinar. Matanya kembali mencari-cari purnama dari balik terali besi. Tak dihiraukannya suara jeritan dari sudut kamar yang lain.

“Hai perempuan gila!”

“Lari…lari sunami datang! Air laut…! Air laut naik!”

Telinga Cut Putroe menangkap langkah sepatu yang semakin mendekat.

“Berapa total pasien dalam bulan ini?” Suara berat seorang laki-laki terdengar begitu lelah.

“Lima belas Dok, semua kasus tsunami” Suara perempuan memberi informasi. Langkah dua pasang sepatu semakin jelas.

“Dok, perempuan yang baru masuk tadi sudah diberi anti depresan.” Kembali suara perempuan dengan langkah tergesa, mencoba menjajari langkah di depannya.

“Cut Putroe?” tanya suara seorang lelaki.

“Iya Dok, tapi dia selalu bernyanyi tentang purnama.” Suara perempuan kembali memberi informasi.

“Tidak apa-apa, tapi jika kondisinya parah segera masukkan ke ruang isolasi.”

“Baik Dok.” Suara perempuan semakin mendekat. Bunyi pintu besi dibuka menarik perhatian Cut Putroe.

“Teuku Ismail…!” Cut Putroe berteriak sambil berlari.

[1] Kampung

[2] Tradisi mengkonsusmsi daging menyambut puasa atau hari raya

[3] Sirih

[4] Apa masih ada sirih?

[5] Gila

[6] Keluar

[7] Tari khas Aceh

[8] Alat tiup tradisional Aceh

[9] Sejenis gendang

Banda Aceh, Juni 2006

NEGERI TANAH BASAH (II)

Baiklah, kugores lagi ragam kisah
Negeri tanah basah
Pada embunnya yang hilang
Pada lembutnya yang luntur karena ambisi
Tapi senyum yang menggumpal, menahan sesak

Baiklah, jika ia telah mengaduk semua kisah
Negeri tanah basah
Saat senjata menebar duga
Melekang takut hanya ia telah bersenyawa
Pada debu yang pesimis
Pada prasangka menggelegakkan amarah

Baiklah, mereka yang di ujung dunia
Mengeja asa negeri tanah basah
Namun buntu berlipat-lipat mengerut jidat
Angka tak cukup menyimpul makna
Karena negeri tanah basah memerah
Tanpa perlu alasan berjilid-jilid
Ia masih basah, merah, lalu bernanah

Banda Aceh, 30 Juni 2012

NEGERI TANAH BASAH [I]

Pada lekang tanah mengembun
Menawar setiap jejak cerita
Bahkan kitab-kitab dunia menyeruak kisah
Dulu ada tawar yang manis

Lalu tanah mengembun, meyublim awan
Pada dua kelopak mata yang tak kering
Kembali dan berkali menuai abjad
Pada sebuah eja yang belum usai

Lalu kitab-kitab itu kembali menoreh
Betapa berkah tanah ini
Betapa embunnya mampu menghadir takjub
Namun orang lupa, pada sebuah merah
Darah.. Menyubur tanah.

Banda Aceh, 29 Januari 2012, basah.

MENGGAMBAR AYAH

Ayah saya bukanlah seorang yang memiliki pengaruh besar dilingkungannya. Bukan pula ia seorang pengambil kebijakan atas urusan sosial dimana ia tinggal. Ia adalah salah satu warga biasa sebagaimana warga kebanyakan di kampung kami. Ia hanya seorang guru yang mengajar murid-murid kampung yang tak jauh dari rumah kami. Mungkin salah satu peran publik yang dimainkan oleh Ayah, yang terekam dalam jejak memori saya adalah ia beberapa kali ditunjuk sebagai sekretaris kepanitian desa. Yang saya tahu alasan penunjukan Ayah adalah karena tulisan tangan Ayah yang teratur, rapi dan indah. Selebihnya Ayah benar-benar menikmati perannya menjadi guru dengan gaji rendah yang kemudian sering kali pula tidak selalu cukup untuk memenuhi kebutuhan tujuh orang anak-anaknya. Saya sangat tahu melalui catatan-catatan pengeluaran Ayah yang rapi pada bukunya hariannya yang tebal jika gaji yang diterimanya pun tidak bertahan beberapa saat digenggamannya, karena harus membayar tagihan belanja bulan yang lalu. Itu pula yang menyebabkan Ayah selalu mengatakan tidak ada uang jika kami merengek minta ini dan itu.

Meskipun rengekan kami yang merajuk untuk meminta keinginan-keinginan tersier seperti mainan, televisi, sepeda, dan lain-lain jarang atau nyaris sulit untuk terpenuhi namun yang saya tangkap Ayah justru memenuhinya melalui standar kebutuhan pokok yang menurut saya di atas rata-rata orang kebanyakan di kampung kami. Ayah selalu menyediakan beras terbaik, lauk yang segar dan berkualitas. Bahkan saya tahu deretan multivitamin yang disediakan ayah memenuhi botol-botol transparan di atas meja dengan lebel yang ditulis ayah untuk menandai jika ini adalah vit B1, Vit B2, Vit B12, Vit C dan lain sebagainya. Bahkan dalam pengelolaan makanan itu pun Ayah memiliki standar dan prosedur khusus yang ia sendiri terjun untuk memasak di dapur.

Kemudian saya tahu pula kegemaran Ayah berlangganan sebuah majalah nasional yang kemudian menjadi bahan dan rujukannya dalam mendidik kami. Ayah terlihat senang jika majalah itu tiba di rumah dan meletakkannya dengan sangat hati-hati di tempat khusus. Namun saya sering pula meminjam majalah tersebut untuk dibaca. Itulah sosok Ayah yang sederhana itu.

Sampai saat ini saya masih harus melipatkan kesyukuran untuk kesempatan menikmati setiap curahan perhatian Ayah. Meskipun terkadang dulu saat saya masih kecil tatkala melihat Ayah orang lain yang menurut saya lebih keren dari ayah saya, seketika ada kekesalan di dalam diri saya mengapa ditakdirkan mendapatkan Ayah yang seperti ini. Seakan-akan Ayah adalah kumpulan kekurangan untuk ukuran pikiran anak-anak seperti saya. Padahal jika berbicara kekurangan, maka jelas saya sendiri mungkin gudang kekurangan itu sendiri, setidaknya mungkin untuk anak-anak saya. Tapi saat muara ingatan saya terlayangkan pada hal-hal yang membuat saya menjadi berfikir positif untuk segala sesuatu yang sudah menjadi kadarnya, tak lepas dari sebuah curahan kasih sayang Ayah.

Saya masih ingat ayah tak segan-segan menggedong saya dan saudara-saudara saya dengan kain panjang batik di saat adanya persepsi tabu untuk seorang lelaki melilitkan selendang di bahunya, apalagi untuk menenangkan seorang anak yang rewelnya minta ampun seperti saya. Ayah pula yang sering mengantarkan saya dan saudara-saudara saya untuk lebih terlelap menikmati malam dengan belaian dan nyanyiannya. Sampai saat ini pun saya masih merasa jika suara Ayah adalah mantra yang sempurna untuk menakhlukkan mata kami yang terkadang sulit untuk terpejam. Ayah pula yang siaga mengantarkan saya dengan sepeda tuanya ke sana ke mari untuk berbagai keperluan.

Namun kadang-kadang Ayah bukanlah orang yang secara ekspresif menyampaikan keinginannya kepada kami secara langsung. Biasanya Emak menjadi jurubicara yang diutus oleh Ayah untuk menyampaikan apa-apa yang dirasakan perlu untuk disampaikannya kepada kami. Bahkan kebisuan adalah pola komunikasi yang sering tercipta tatkla kami berhadapan muka.

Menggambar Ayah berarti sedang melukis diri sendiri untuk direfleksikan pada anak-anak saya. Saya sangat paham jika anak-anak adalah jejak karya dari orang tuanya. Saya adalah jejak dari pahatan Ayah saya, dan dengan modal itu saya pun sedang memahat sebuah jalan pada anak-anak saya. Dan saat ini saya ingin mengatakan dengan segenab hati untuk Ayah sebuah cinta yang kadang sulit untuk terungkapkan secara verbal karena alasan budaya. Terima kasih Ayah, untuk cinta yang mengakarkan. (***)

JEMBATAN YANG BERNAMA KENANGAN

Sesuatu yang terdekat dari kehidupan itu adalah kematian dan yang terjauh itu adalah masa lalu. Dua hal yang senantiasa mengiringi setiap detik dari kehidupan. Saat waktu itu bergerak menuju sesuatu yang semakin mendekat diperlukan sebuah ruang kesadaran yang harus senantiasa terstimulasikan. Sebab sejenak bergumul dalam kelalaian, bisa jadi pada saat itu waktu kemudian terhenti. Maka penyesalan yang menggunung tak kan mampu melerai waktu yang terlalui untuk kembali mundur.

Pemaknaan yang tepat untuk masa lalu yang semakin mejauh meninggalkan waktu kehidupan harus senantiasa dihadirkan. Masa lalu mungkin bisa jadi berupa kumpulan karya yang membanggakan sehingga patut untuk diletakkan pada rak kenangan. Sewaktu-waktu rak kenangan dapat dibuka untuk menghasilkan senyuman karena ia begitu spesial dipikiran dan hati.

Ada kalanya kenangan wujud dari luka dan ingin terbenamkan karena menyisakan kepedihan yang tak ingin belama-lama untuk dirasakan. Anehnya sedemikian muncul usaha menguburnya justru semakin kuat pula masa lalu itu menyeruak kepermukaan. Tidak ada tempat pada rak kenangan untuk sebuah kisah luka itu.

Kenangan adalah jembatan pada masa lalu, meski ada jarak yang sedemikian jauh, kenangan membuatnya menjadi lebih dekat. Kenangan akan mampu menghubungkan masa lalu tersebut dengan masa sekarang. Maka beruntunglah mereka yang memiliki kenangan untuk bisa sampai ke masa lalu itu.

Meletakkan kenangan ini agar ia menjadi sesuatu yang bukan saja tertinggal dibelakang, namun menjadi seuatu yang dapat menggerakkan dalam mempersiapkan sesuatu yang semakin mendekat. Dalam banyak kondisi kenangan dapat pula banyak hal. Alangkah naifnya jika kita senantiasa mengalami amnesia pada banyak kenangan hanya karena kenangan itu terlalu pahit untuk diingat.

Begitulah, waktu menampilkan keunikannya, tinggal bagaimana penghargaan terhadap setiap detik dari waktu yang terus berjalan.

Yesterday for learn, to day for life and tomorrow for hope

TAMU ISTIMEWA ISTRIKU

image

Dalam dua hari ini, istriku sedemikian sibuk untuk kemudian mulutnya tak henti menyebut tamu yang akan datang itu. Sosok perempuan yang sudah lama dikenal istriku sejak ia gadis. Perempuan sederhana dari pelosok kampung Aceh Besar, tepatnya kecamatan Indrapuri. `AJaib,` pikirnya, tak biasanya ia memberitahu kedatangannya melalui sebuah pesan pendek. Selama ini kedatangannya benar-benar seperti angin, mengejutkan kemudian terburu-buru dan berlalu. Entah hp siapa yang dipergunakannya untuk memberi tahu kedatangannya kali ini yang kemudian membuat istriku sedemikian bersemangat pula menunggunya.

Aku mengingat-ingat beberapa kali kedatangannya ke rumah pada pertemuan terakhir. Maka, data statistik yang muncul setidak-tidaknya satu hingga dua kali dalam setahun ia akan datang. Seperti angin, mengejutkan dan terburu-buru, pada sebuah pagi yang cerah. Pernah suatu ketika ia menampakkan sosoknya yang gemuk dengan tiga orang anak perempuan kecilnya terlihat lelah. Saya sendiri terheran-heran bagaimana mungkin ia mengangkut semua kerepotan itu dalam sebuah semangat. Sekotak besar langsat manis yang dia sebut sebagai hadiah kecil, hasil dari kebun di kampungnya telah ada di sudut dapur kami. Maka mengalirlah pertanyaan keherananku untuknya.

Untuk sekotak besar buah langsat itu, ia sudah mempersiapkannya sehari sebelum kedatangannya ke rumah kami. Ia harus membangunkan gadis-gadis kecilnya itu sebelum subuh, mempersiapkan mereka untuk menemaninya nanti. Usai subuh mereka pun menapak kaki selama hampir satu jam menuju jalan besar untuk bertemu angkutan umum.Tentu saja kotak langsat itu dijinjingnya, di antara segala kepayahan dan semangatnya. Sambil menghilangkan penat ia harus menunggu pula angkutan umum yang akan membawanya ke Banda Aceh. Dan kegembiraannya akan muncul tatkala ada angkutan umum yang menghampiri, menawarkan tumpangan. Sedikit negoisasi untuk harga yang pas kadang-kadang harus membuatnya puas menunggu angkutan berikutnya. Uangnya sangat terbatas untuk sebuah perjalanan penting ini. Negoisasi menjadi perlu untuk memastikan jika ada sisa uang agar ia dapat kembali ke kampungnya.

Dinginnya pagi agak sedikit terlerai saat ia dan bawaannya merebahkan semua kepenatannya di kursi angkutan umum. Satu jam perjalanan mampu mengusir lelahnya hingga sampai di tengah kota. Namun belum cukup di situ, ia harus mencari becak mesin sebagai rangkaian perjalanan akhir untuk tiba di rumah kami. Dengan karakternya seperti angin, mendadak dan terburu-buru mengucap salam di ujung pintu. Untuk kesekian kali kami pun medadak takjub. Kunjungannya pun super singkat jika dibandingkan dengan usahanya menuju rumah kami. Cukup dengan menghidangkan makanan kecil, diselingi tentang kisahnya selama ini; tentang suaminya yang sakit-sakitan, tentang sawahnya yang mulai masa panen, tentang anak-anaknya yang begitu rapat usianya, bahkan semua lelah hidup yang menyerap kemudaan usianya. Cerita itu dapat tuntas pada percakapan tahunan kami, semacam short annual meeting sebuah episode hidupnya

Istriku selalu mengingatnya melalui barang-barang layak pakai kami. Sesekali kami memberinya barang yang memang baru dan itu membuat bahagia memancar dari binar matanya. Dengan begitu ia menjadi spesial di hati istriku, menjadi tamu yang selalu ditunggu

Kami bukanlah orang yang memiliki hubungan kerabat dengannya. Baginya kami hanyalah keluarga sederhana yang menyambut setiap kedatangannya, meski hanya sesaat. Tak perlu alasan yang rumit untuk sebuah hubungan silaturahim unik ini. Cukuplah kepayahannya,beragam hasil kebun seperti sayuran, buah-buahan untuk ditukar dengan beberapa barang layak pakai dan sedikit ongkos pulang telah membuat kami berarti di matanya. Tentu saja ia akan kembali direpotkan dengan bawaan yang menggunung itu, menapak kembali jalan pulang ke kampung dan kehidupannya yang sederhana.

Dia lah Rahimah, perempuan muda beranak lima yang sederhana dari sebuah kampung sederhana di pelosok Aceh Besar selalu hadir seperti angin, mendadak dan terburu-buru. Ia sosok perempuan bersahaja menjalani hidup pada hal-hal sederhana yang membuatnya telah menemukan arti bahagia. (***)