AKSARA KAU DAN AKU, DULU DAN KINI

Meski tenggorokan mereka meragu
Menukik, menajam, bahkan menoreh pada yakinmu
Pada semua aksara yang hanya kau, aku yang paham
Aksara yang kita rangkai pada cinta, tatihan waktu.

Tak perlulah sedu sedan itu, meski waktu terasa melambat
Saat hampir semua mata awas pada manusiawi kita
Nanar matamu mengundang kembali aksara kita
Melewati semuanya, bersamamu jauh lebih bernilai

Sungguh, kita tak perlu mengeluarkan belatih
Tak perlu pula pula kita memanggul laras saat semua dirampas
Ya ini harus dilalui agar aksara kita menyempurna
Menyublim bersama mendung negeri ini

Kau, aku dan aksara kita yang menggores cerita
Tentang sebuah negeri yang indah
Sebuah oase surga di tanah yang menjauh
Saatnya menyuburkan rindu pada hamparan tanah ini
Jadi, aksara kau dan aku, dulu dan kini agar bukan hanya kita yang mengerti
Bahkan sekali lagi saat masih saja tenggorokan mereka meragu.

AKU TAHU, KAU BINTANG ITU

20130223-221717.jpg

Aku tahu kau ada di sana, bersama ribuan bintang
Kerlipmu memancar, mengedip dalam hening malam
Bahkan kerlip itu menghadir asa, menitip pesan
Sebuah titah agar perjalanan masih harus melewati onak

Aku tahu kau ada di sana, meski gelap dan dingin menguasai angin
Karena batas cahaya berjarak bermilyar depa, dari sini
Namun pesanmu menembus waktu, menyelinap pada dinding malam
Kau kata tak perlu ragu, karena bintang akan tetap bercahaya

Aku tahu, jika kerlipmu senantiasa memijar
Bersama tekad yang menyeruak di masa itu
Saat kita menggores batu menjadi pualam cita-cita
Takbirmu masih membahana, di sini dalam jarak waktu kita yang berbeda

Aku tahu, sungguh aku tahu, medali itu akan tersemat
Di dadaku, sebagaimana saat senyummu menyungging
Berpuas atas tunai tugasmu, karena batas waktu
Dan kini, kau hadir pada bintang, memijar di sana.

Banda Aceh, 23 Februari 2013

NEGERI TANAH BASAH (II)

Baiklah, kugores lagi ragam kisah
Negeri tanah basah
Pada embunnya yang hilang
Pada lembutnya yang luntur karena ambisi
Tapi senyum yang menggumpal, menahan sesak

Baiklah, jika ia telah mengaduk semua kisah
Negeri tanah basah
Saat senjata menebar duga
Melekang takut hanya ia telah bersenyawa
Pada debu yang pesimis
Pada prasangka menggelegakkan amarah

Baiklah, mereka yang di ujung dunia
Mengeja asa negeri tanah basah
Namun buntu berlipat-lipat mengerut jidat
Angka tak cukup menyimpul makna
Karena negeri tanah basah memerah
Tanpa perlu alasan berjilid-jilid
Ia masih basah, merah, lalu bernanah

Banda Aceh, 30 Juni 2012

NEGERI TANAH BASAH [I]

Pada lekang tanah mengembun
Menawar setiap jejak cerita
Bahkan kitab-kitab dunia menyeruak kisah
Dulu ada tawar yang manis

Lalu tanah mengembun, meyublim awan
Pada dua kelopak mata yang tak kering
Kembali dan berkali menuai abjad
Pada sebuah eja yang belum usai

Lalu kitab-kitab itu kembali menoreh
Betapa berkah tanah ini
Betapa embunnya mampu menghadir takjub
Namun orang lupa, pada sebuah merah
Darah.. Menyubur tanah.

Banda Aceh, 29 Januari 2012, basah.