Rikuzentakata “Miracle” Pine: A Hope to the World

Tsunami debris was still left

The seawall constructed along the coastal area

Standing in front of the pine tree.

“The 2011 tsunami damaged and destructed Rikuzentakata city” said Sato-san

The tsunami hit north-east Japan on March 11, 2011, was also devastated Rikuzentakata city, Japan. Rikuzentakata is located in the far southeast corner of Iwate Prefecture, bordered by the Pacific Ocean to the east.

When the 2011 tsunami hit Japan, more than 1,700 Rikuzentakata people killed. The tsunami waves up to 13 meters high reached the coastline.

I had the opportunity to visit this city, and it was a very amazing experience to know how the Rikuzentakata city recovered fastly. I met Sato-san; a tsunami survivor, and also works as a tsunami volunteer. 

He helped me to look around the city. He described the story of Rikuzentakata before the 2011 tsunami and also mentioned the recovery process. I appointed to a pine tree that was standing alone between the damaged buildings. 

I asked Sato-san to be more closed to a pine tree.

“It is only one among 70,000 trees left standing after hit by the 2011 tsunami,” said Sato-san.

“The Rikuzentakata local community decided to keep that tree as a symbol of hope,” he added.

“But you know Alfi-san,” Sato-san stopped his explanation awhile.

“The local people faced so many criticisms on the project, due to it absorbed so much money, but as you can see it is standing there,” Sato-san raised his voice.

“It was not easy at all,”

“We called it a miracle pine tree, and it is for the Rikuzentakata people who were left suffering after the disaster, that tree teaches us never to give up,” he continued. I just kept silent, and suddenly I felt so blessed to be here.

Simeulue Island: a Perfect Site for Research and Pleasure

I conducted research in Simeulue Island from 2016-2017 (visited several times) on how their indigenous knowledge (Smong) was successful in saving lives during the 2004 Indian Ocean tsunami devastated and damaged Aceh coastal areas.

I love Simeulue for many reasons: beautiful island, great nature, the hospitalities of Simeuluean people, and seafood.


Saat Sekolah Harus Ditutup Karena Kekurangan Murid (Catatan dari Kota Marumori)

Dalam beberapa dekade terakhir, Jepang dihadapi pada masalah yang berhubungan dengan kondisi demografi. Hal tersebut disebabkan karena terus terjadinya penurunan jumlah kelahiran dan usia harapan hidup cukup tinggi.

Salah satu SD di kota Marumori, Miyagi, Jepang yang ditutup oleh pemerintah karena tidak ada lagi anak-anak usia sekolah di sekitar sekolah tersebut. Sejak 40 tahun terakhir Jepang mengalami defisit penduduk

Mengunjungi Kota Marumori

Kota Marumori adalah kota yang terletak di Prefektur Miyagi dan berbatasan dengan Frefektur Fukushima, Jepang. Marumori sendiri berarti kota yang dikelilingi pohon. Jadi kota yang berpenduduk hanya 13,900 jiwa adalah kota yang sangat asri karena dikelilingi oleh bukit yang berhutan lebat.

Sebagaimana kota-kota lain di Jepang, kota Marumori mengalami penurunan jumlah penduduk sejak lebih dari 40 tahun terakhir. Di Jepang sendiri, penurunan jumlah penduduk diikuti meningkatnya usia harapan hidup telah menjadi fenomena umum dan mendapat perhatian yang besar dari pemerintah untuk memprediksi perkembangan Jepang masa depan. Sebagian ahli menyebut situasi ini sebagai twin phenomena.

Jadi tidak heran jika dalam beberapa kegiatan tur yang saya ikuti sebagai volunter, maka lazim pula dijumpai jika pesertanya kebanyakan para manula (biasanya para pensiunan yang masih memiliki kesehatan prima). Dan hal kebalikannya terjadi saat saya mengikuti kegiatan tracking menelusuri sejarah kota Marumori maka sangat jarang saya menjumpai anak-anak yang berkeliaran bermain-main. Padahal saat itu sedang musim semi, dimana bunga-bunga sedang memancarkan pesonanya, dan waktu yang tepat untuk melakukan aktivitas di luar rumah.

Keheranan saya itu segera terjawab saat memasuki sebuah bangunan sekolah dasar dengan halaman luas. Di pintu kiri dan kanan gerbang sekolah ditanami pohon-pohan Sakura tua yang sedang mekar, terlihat sangat indah sekali. Perhatian saya tetuju pada bunyi besi yang begesekan. Bunyi tersebut berasal dari dua buah ayunan yang bergerak perlahan ditiup angin. Kedua ujung pengikat ayunan tersebut bergesekan perlahan dan berirama. Ayunan itu tampak tida terawat dan sepertinya telah lama pula tidak ada yang menaikinya.

Saat saya mendekati pintu utama gedung sekolah, seorang gadis yang saya perkirakan berusia 25 tahun menyambut kami dengan ramah dalam bahasa Jepang. Saya hanya menangkap beberapa kata untuk selanjutnya menyerah lalu meminta teman saya menerjemahkannya.

Gadis itu adalah alumni sekolah dasar ini. Ia menjelaskan jika sekolah ini telah ditutup sejak beberapa tahun yang lalu. Faktor utamanya adalah anak-anak usia sekolah dasar di sekitar sekolah tersebut hanya tinggal beberapa orang saja. Dengan alasan operasional dan efektifitas maka sekolah itupun disepakati ditutup. Gadis itu terlihat sedih.

Ayunan yang terletak di halaman sekolah di bawah pohon Sakura yang sedang mekar
Foto para mantan Kepala Sekolah

Kemudian, ia membawa kami berkeliling memperlihatkan beberapa ruangan yang memiliki kenangan tersendiri baginya. Di lorong utama terlihat beberapa foto yang tak lain adalah kepala sekolah yang pernah memimpin sekolah tersebut. Di bagian dinding yang lain terpampang foto kegiatan sekolah memperlihatkan betapa meriah dan aktifnya sekolah. Namun, itu hanya tinggal kenangan saja.

Karena waktu zuhur telah tiba, saya meminta izin untuk memakai salah satu ruangan untuk salat. Saya memilih salah satu sudut ruangan yang jendelanya terbuat dari kaca sehingga saya dapat bebas memandang bagian belakang sekolah. Dari sudut itu saya dapat melihat dengan jelas pohon Sakura yang sedang mekar. Merupakan tempat salat yang paling indah.

Meskipun sekolah tersebut telah ditutup, pemerintah dan masyarakat setempat menjadikan sekolah tersebut sebagai salah satu bagian dari aset kota yang perlu dijaga. Kisah sekolah itu tetap menjadi cerita yang menarik baik bagi masyarakat sekitarnya maupun para pendatang untuk memperlihatkan perubahan kota Marumori dari masa ke masa.

Perjalanan kali ini memang menarik!

Ruangan yang saya gunakan untuk tempat salat

A Glance of My 2019 Hajj Travel (Challenges and Notes)

“The essence of the Hajj is Arafat. On the ninth day of the Hajj month all pilgrims gather on the great Plain of Arafat to offer their deepest heartfelt prayers. It’s a reminder of Resurrection, when everyone will stand “naked” before God on Judgement Day and nothing counts but our actions and their effects upon our soul’.”

Kristiane Backer, From MTV to Mecca: How Islam Inspired My Life
Masjidil Haram (2019 Hajj)

I went to Hajj last year (2019)

This is what it was like

I remember the utter emotion—a combination of mettle and strengthened happiness. I wasn’t sure how I would feel when I saw the Kaaba. And I was touched, so that tears came to my eyes while keeping my mother’s in-law wheelchair tightly. Suddenly, I was in complete wonder and joy. Hajj is my completion task as a Muslim.

I was considering all the hajj history in this same spot, (the story of Prophet Ibrahim and his family: Ismail and Hajar) and the footsteps of so many previous persons with their amazing stories that had traveled before by camel, foot. My mind jumped to the most influenced person in the world, Muhammad (peace be upon him).

And now, many airlines, services, new infrastructures, and new systems make our hajj easier and comfortable. My heart filled with joy and a surreal sense of peace.

I stood up in front of the Kaaba, the center of Islam, and it signified a place of unity for Muslims of background or race and ethnicity. I felt incredibly blessed to be among a fraction of the 2 millions Muslims who got this opportunity to be here.

Here are some of recommendation from the challenges and notes of my 2019 Hajj in the context of Indonesian pilgrims:

  1. More consider and specific attention to the high-risk groups are needed, such as person with special conditions or disable group or who are older than 60 years or who have health conditions like lung or heart disease, diabetes.
  2. More consider and good intervention to the changes of mental health condition is important. Most of the Indonesian pilgrims, Hajj is the first flight and long travel that they ever have.
  3. For Indonesian pilgrims, the regular hajj is too long (at least 40 days should stay in Makkah and Medina). It also affects their whole condition (extra foods, clothes, money, weather).

To be continued….

It is so sad the 2020 Hajj will be postponed due to the COVID-19 pandemic.

I know, it not easy for many people who already made long time preparation for this year Hajj.

I remember, last year (2019), one week before our flight, my mother in-law got serious health condition. She hospitalised for 5 days. At the time, I thought that we should cancel our travel.

Finally, we decided to only change the flight to the last scheduled group in the same year after my mother in-law health condition better.

Masjidil Haram (2019 Hajj)

Hanamaki: Kota Para Petani yang Menakjubkan!

Hayachine-san yang merupakan gunung kedua tertinggi di prefektur Iwate, terlihat indah dari kota Hanamaki dengan efek putih karena diselimuti Salju.

“We must embrace pain and burn it as fuel for our journey.”

― Kenzi Miyazawa

Di antara rahasia utama kesehatan masyarakat Jepang adalah lingkungan yang bersih, asri dan udara segar. Saya dan Hamza (teman saya asal Aljazair) berkesempatan mengujungi salah satu desa yang terkenal dengan kesegaran udaranya, yaitu desa Minamisasama, yang terletak di kota Hanamaki, Prefektur Iwate. Saya dan Hamza berkesempatan menginap di keluarga Heito.

Kota Hanamaki terletak di bagian tengah Prefektur Iwate, Tohoku. Posisinya yang dilalui oleh sungai-sungai yang berair bersih dan jernih telah pula menjadikan kota ini sebagai kota andalan yang menghasilkan berbagai produk pertanian seperti beras, beragam sayuran dan buah-buahan. Dari sektor pertanian ini, ekonomi 90 ribu jiwa lebih penduduk kota Hanamaki berdenyut.


Memanen Jamur di lahan pertanian milik Abe-san, salah seorang petani di kota Hanamaki. Meskipun musim dingin Jamur ditanami di dalam ruangan yang suhunya diperoleh dari mesin pemanas berbahan bakar kayu. Suhu diatur sedemikian rupa sesuai dengan perkembangan jamur. Hasil pertanian ini dipasarkan untuk masyarakat lokal dan seluruh Jepang. (Photo credit: Kazumi Ochiai, GogoTohoku)

Hayachine-san yang merupakan gunung kedua tertinggi di prefektur Iwate. Pada musim dingin gunung tersebut terlihat berdiri gagah, jika dilihat dari kota Hanamaki dengan efek putih karena diselimuti Salju. Konon, Hayachine-san memiliki tanaman langka yang hanya terdapat di puncaknya. Tak seorangpun dibenarkan untuk memetik dan membawanya ke luar kawasan Hayachine-san.

Gugusan pegunungan tersebut menjadikan Hanamaki memiliki banyak hot spring resorts (Onsen resorts). Hanamaki juga dikenal sebagai tempat kelahiran dari seorang maestro bernama Kenji Miyazawa. Kenji Miyazawa bukan hanya kebanggaan warga Hanamaki, namun juga menjadi sosok besar dari perjalanan perkembangan pengetahuan, seni, kosmos, agama dan sektor pertanian Jepang (Saya akan membahas sosok Kenji di bagian khusus).

Untuk mencapai Hanamaki kami menghabiskan hampir satu jam dengan Sinkansen (bullet train) menuju bagian utara Jepang. Perjalanan kami menuju utara Jepang. Dari endela Sinkansen terlihat dengan sangat jelas lahan pertanian yang ditutupi oleh salju putih. Musim dingin sepertinya masih enggan beranjak. Padahal di pertengahan bulan Maret seperti ini Jepang bagian selatan telah disambangi oleh musim semi yang ditandai oleh mulai mekarnya Sakura.


Bersama Oto-san dan Oka-san (Photo credit: Kazumi Ochiai, GogoTohoku)

Menjelang sore, Saya dan Hamza tiba di desa Minamisasama. Keluarga Heito yaitu sepasang suami istri yang kami panggil sebagai Oto-san (68 tahun) dan Oka-san (65 tahun) menyambut kami dengan keramahan khas Jepang yang menyentuh. Warga desa ini sepertinya memiliki lahan pertanian yang luas. Rumah-rumah para petani di daerah ini dipisahkan oleh lahan pertanian yang luas.

Kami menghabiskan sore dengan perbincangan yang seru ditemani dengan secangkir green tea hangat dan kue mochi berlapis daun sakura. Percakapan kami berlanjut ke ruang dapur dimana Oka-san sedang mempersiapkan menu makan malam dan memperkenalkan bagaimana orang Jepang memasak. Menu makanan kami malam itu adalah nasi merah dan sup ikan.

Menurut Hamza, makanan Jepang terlihat sangat simple dengan pengelolaan setengah matang. Hal ini berbeda dengan makanan yang ada di negaranya. Masih menurut Hamza jika tekstur dan derajat kematangan masakan Aljazair antara masakan Jepang dan India. Saya tidak begitu paham seperti apa. Saat diskusi memasuki topik makanan ini Hamza memperlihatkan gambar di ponselnya, makanan khas Aljazair yang mereka sebut sebagai Kuskus. Menurut Oka-san kuskus terlihat seperti Pizza. Hamza terlihat kecewa, namun ia tidak putus asa dan memperlihatkan gambar yang lain dan menyebut sebuah nama lain, sementara Oka-san kembali mengomentarinya dengan menyamakan jenis makanan tersebut dengan karee, kami pun tertawa bersama.

Saat jam menunjukan tepat pukul delapan malam kami pamit untuk menunaikan salat dan tidur. Kami pun segera menuju kamar yang telah disiapkan oleh keluarga Heito. Futon yang dilengkapi dengan empat lapis selimut telah menyambut kami. Meskipun heater telah dinyalakan selimut-selimut itu sepertinya sangat berguna dan terlihat nyaman. Menurut Oka-san saat puncak musim dingin, Hanamaki dapat ditutupi oleh salju setinggi 3-4 meter. Salah satu daerah terdingin di Jepang.

Meskipun dingin, sekitar pukul empat pagi kami bangun untuk menunaikan salat subuh dan setelahnya melanjutkan tidur, sampai kemudian suara Oto-san dari balik pintu kamar mengucapkan Ohaiyo Gozaimas. Panggilan tersebut sebagai penanda jika sarapan telah disiapkan. Oka-san menyeduh kopi Aceh yang sengaja saya berikan sebelumnya sebagai oleh-oleh. Oka-san terlihat senang saat menyeduh dan aroma kopi seketika memenuhi ruangan.


Bersepeda menikmati pemandangan desa Minamisasama, Hanamaki, Prefektur Iwate (Photo credit: Hamza)

Usai sarapan Oto-san mengajak kami ke garasi dan tiga buah sepeda tegeletak di sana. Sepeda-sepeda tersebut sepertinya telah lama tidak digunakan dan terlihat kempis. Setelah memompanya kami pun mendayung sepeda menelusuri jalan beraspal. Pemandangan sangat menakjubkan. Di kiri dan kanan jalan terlihat sawah-sawah tertutup salju. Dari kejauhan saya melihat sebuah mobil pengeruk salju membersihkan saluran irigasi dari bongkahan salju yang telah menjadi es. Sepertinya mereka akan bersiap untuk memasuki musim tanam yang sebentar lagi akan tiba.

Oto-san menjelaskan jika aktivitas pertanian akan kembali bergeliat saat musim semi tiba. Saya dan Hamza membayangkan jika betapa indah dan hijaunya desa Minamisasama pada musim panas yang akan datang. Tentu pemandangannya akan sangat berbeda dengan suasana saat ini. Segerombolan angsa-angsa putih memekik dan terbang bersama-sama menuju arah timur. Segerombolan angsa yang lain terlihat sedang bermain-main di tengah sawah, sepertinya sedang mencari sisa-sisa makanan usai musim dingin. Di kejauhan Hayachine-san terlihat memantulkan kilauan putih saljunya yang memesona. Membuat pagi di desa Minamisasama terasa sempurna.

#gogotohoku #japan #hanamaki #iwate #travel

Source: https://steemit.com/travel/@alfirahman/hanamaki-kota-para-petani-yang-menakjubkan

Call for Chapter: Buku Series Manajemen Bencana #1

Call for Chapter: Pengetahuan Lokal untuk Pengurangan Risiko Bencana

Judul Buku:
Pengetahuan Lokal untuk Pengurangan Risiko Bencana, Konsep dan Aplikasinya

Editor:
Alfi Rahman (Universitas Syiah Kuala)
Co-Editor:
Nurmalahayati Nurdin (UIN Ar-Raniry)
Muzayin Nazarudin (Universitas Islam Indonesia, Yogyakarta)

Penerbit
Syiah Kuala University Press (Unsyiah Press)
– Anggota IKAPI & APPTI
– Terdaftar di Perpusnas RI untuk pengajuan ISBN

Sinopsis

Kapasitas pengetahuan merupakan hal yang penting dalam mewujudkan masyarakat tangguh bencana (Community Resilience). Pengetahuan lokal (Indigenous Knowledge) adalah salah satu strategi dari suatu masyarakat dalam beradaptasi dengan situasi lingkungan yang tidak menguntungkan seperti bencana. Pengetahuan lokal ini tumbuh dan berkembang di dalam masyarakat melalui sebuah proses yang panjang, lintas generasi, tersimpan dalam saluran tradisional (pada umumnya bersifat oral), dalam kurun waktu tertentu dapat hilang kemudian muncul kembali akibat adanya penguatan dalam menyikapi atau beradaptasi pada kejadian yang hampir sama (demikian seterusnya).  Dengan situasi yang demikian menyebabkan eksistensi pengetahuan lokal berpotensi terdegradasi bahkan hilang jika tidak ada upaya untuk merawatnya dengan baik.

Dalam konteks Indonesia praktik pengetahuan lokal ini lazim ditemui dalam berbagai bentuk. Salah satu bentuk praktik pengetahuan lokal dalam beradaptasi dengan bencana, tergambar dengan sangat baik dalam kisah Smong masyarakat Kepulauan Simeulue dalam menyelamatkan masyarakat  dari bencana tsunami pada tahun 2004. 

Namun menjadi penting memahami lebih lanjut bagaimana pengetahuan lokal dapat  bersenyawa dengan pengetahuan masyarakat dari masa ke masa dan bagaimana peran tersebut dapat tetap berkelanjutan dalam membentuk pengetahuan dan kesiapsiagaan masyarakat Indonesia dalam menghadapi bencana berikutnya.

Buku ini merupakan buku yang diterbitkan dalam bentuk book chapter berupa hasil penelitian orisinil dan terkini, concept paper, studi literatur, dan hasil workshop dengan ruang lingkup topik sebagai berikut:

  • Konsep Pengetahuan Lokal (Indigenous Knowledge) untuk Pengurangan Risiko Bencana(PRB)
  • Berbagai Aplikasi Pengetahuan Lokal untuk PRB
  • Mengenal dan Validasi Pengetahuan Lokal untuk PRB
  • Revolusi Budaya dan Pengetahuan Lokal dalam upaya PRB
  • Pengetahuan Lokal dan Sains
  • Beragam Isu dan Tantangan Pengetahuan Lokal untuk PRB

Tanggal Penting

  • 1 Juni 2020: Batas penerimaan abstrak chapter (maximum 500 kata)
  • 15 Juni 2020: Pengumuman penerimaan abstrak chapter
  • 15 September 2020: Batas akhir pengumpulan full chapter
  • 15 Oktober 2020: Revisi full chapter
  • 15 November 2020: Camera Ready Submission
  • 15 Desember 2020: Final Print Version Available (Tentative)

Download template untuk:

Pendaftaran/Upload  Abstract dilakukan di sini
Informasi lebih lanjut dapat menghubungi:

  • Alfi Rahman: alfi.rahman@unsyiah.ac.id
  • Taufiq A Gani; topgan@unsyiah.ac.id

Why, 14 years after the Aceh tsunami, ‘smong’ should be part of the Indonesian vocabulary

By. Alfi Rahman

Researcher at Tsunami and Disaster Mitigation Research Center (TDMRC), Universitas Syiah Kuala

It seems that we still stutter and come back to what happened in Lombok, Palu and Donggala, Indonesia. In 2018, it remains as urgent as in 2004 to make changes that transform our understanding of natural disasters and eventually save lives.

Smong! Smong! Run! Run!”

One important way to do this is to privilege traditional local knowledge and memories of previous events. Next week will be the 14th commemoration of the Aceh tsunami.

The International Framework for Disaster Risk Reduction (DRR) or the Sendai Framework for Disaster Risk Reduction (SFDRR) 2015-2030 has emphasised the importance of using local knowledge. To reduce disaster risk, we need to create a social dynamic that strengthens local knowledge in individuals and society as a whole.

Power of local wisdom

One important example of local knowledge that saved lives is from Simeulue island in Aceh regency; it is the story of smong: On December 26 2004, a student named Almahdi was smoking on the high bridge over the river in Banda Aceh. Born in Simeulue, when the earthquake happened and the sea receded he knew what was next. He started yelling “Smong! Smong! Run! Run!”

But all those near him looked at him as if he were a madman. They did not know the meaning of smong and did not run. Within the hour many of them were dead. Almahdi saw their bodies floating in the river.

Almahdi survived, but he did not know that all his compatriots at home on Simeulue island also survived. Official reports said that “Simeulue was drowned” and he feared for the worst for over a week.

Almahdi’s knowledge of smong stems from an incident on January 4 1907. A 7.6 magnitude earthquake shook the Simeulue islands and a few moments later a massive tsunami devastated Simeulue’s coast. From that day, the few survivors determined to honour the family who had died and to save their descendants by telling the story of smong to their children and grandchildren.

Nearly 100 years later, on December 26 2004, all 70,000  people on Simeulue were reminded of the smong by the 9.2 magnitude earthquake. They ran to the hills and watched as the giant wave destroyed their houses. The wisdom of smong, retained for 97 years, saved their lives.

In recent years the word smong has attracted international researchers seeking to deepen understanding of the phenomenon. Smong is the local knowledge of the Simeulue community, and before 2004 was unknown by outsiders. The United Nations International Strategy for Disaster Reduction (UNISDR) awarded the Simeuluean people the UN Sasakawa Award on October 12 2005. The award was given in Bangkok, Thailand, in appreciation of, and to encourage, their efforts to contribute to a global culture of disaster prevention, thereby furthering the goals of the international strategy for disaster reduction.

Now their pride in the word smong has spread to Aceh and is being adopted in efforts to adapt to earthquake and tsunami disasters. Simeuluean people, grateful to their nation for the reconstruction after 2004, want to grow the pride in smong to a national level. They want to make a gift of smong to be owned by the Indonesian people as a whole. They feel that the word smong should be part of the Indonesian vocabulary, providing the basis for a new understanding of the tsunami disaster.

Smong is ready for this challenge. It was tested in the December 26 2004 earthquake and tsunami disaster with impressive results. The existence of the word in the language provides a definition (know what) that is linked to understanding (know how). This knowledge moved the Simeulue community to take fast and appropriate action when reading natural signs of an earthquake and tsunami.

There are other terms for tsunami throughout the Indonesian archipelago. On the mainland there is the term Ie-beuna in Banda Aceh and Aceh Besar, while in Singkil people call the tsunami the Gloro. Over time, however, the knowledge linked to these words has faded. Many lives have been lost as a result.

Smong comes from the Devayan language of Simeulue and refers to the complex of earthquake/sea receding/giant wave that is typical of tsunami events in Indonesia. It is shared in the traditional songs of Simeulue, the nandong:

Enggel mon sao curito (Hear this story) / Inang maso semonan (One day in the past) / Manoknop sao fano (Our village sinks) / Unen ne alek linon (Starting with the earthquake) / Fesang bakat nemali (Then followed by rising waves) / Manoknop sao hampong (Sinking the whole village) Tibo-tibo mawi (Immediately) / Anga linon ne mali (If a strong earthquake occurs) / Uwek suruik sahuli (Followed by the receding sea water) / Maheya mihawali (Hurry) / Fano me senga tenggi (Run to the higher place).

The Simeulue community cleverly closes all the stories by placing the following sentence: Eda Smong kahanne (That’s what we call smong).

This very emotional song form is sung at social gatherings and weddings. Combined with regular telling of the same story, it constitutes a very simple system, but one that has the power to move people and save lives.

Why does smong need to be included in Indonesian vocabulary?

The Big Indonesian Dictionary (Kamus Besar Bahasa Indonesia, KBBI) provides the Japanese term tsunami for what the Simeuluean people call smong.

In fact, in Japan, there are variations in the terms used to describe natural phenomena that we know as tsunamis such as onami (big waves), shakainamisu (rising waves reaching the land) etc. The specific word tsunami in the Japanese language comes from two terms: “tsu”, which means port, and “nami”. which means wave. That is, a harbour or port wave.

If viewed from the root of the word, one has an incomplete understanding of the natural hazard. Does this wave affect only harbours? Am I safe on the beach? It is not clear.

Despite this, “tsunami” is now used internationally, replacing the word “tidal wave” in most languages by the 1980s. Of course, “tidal wave” was an even worse description of the giant wave phenomenon, which has nothing to do with the tide.

There are several strong reasons, then, to make smong part of the Indonesian vocabulary.

Smong describes the natural hazard complex seen regularly in Indonesia, and most recently in Palu and Donggala. With 46% of the Indonesian coast subject to giant waves, it is geographically relevant.

Smong is a symbol of international recognition of the roles of local knowledge in reducing risk as declared in SFDRR 2015-2030.

Smong is a word that is known to have saved many lives.

Smong already has global recognition and is a source of pride for Simeulue, Aceh and Indonesia.

Smong reminds us of the importance and strength of local knowledge.

Smong sounds like an Indonesian word, matching and making local pronunciation easy.

Smong was born from the womb of the Indonesian people themselves, so it should be accepted as a national treasure.

Most importantly, smong provides the basis of a new national discussion of a devastating natural hazard.

It is the “hook” upon which all Indonesian people can hang a new understanding of how to save themselves, their children and grandchildren. Knowledge of smong has the potential to substantially reduce, and perhaps even eliminate, casualties from giant sea waves.

Initiating the word smong in the Indonesian vocabulary does not mean removing the word tsunami, which is now an international word. But our acceptance of smong should be a source of pride in the protection of our greatest wealth – our people.

The people of Simeulue have offered a gift to Indonesia, the word smong; Almahdi still wishes the people in Banda Aceh had understood him yelling smong on that terrible day in 2004. He and all Simeuluean people now wish all Indonesians have the knowledge, identity and pride of smong.

Sumber: theconversation.com

Setelah 14 tahun tsunami Aceh, saatnya kata ‘smong’ masuk kosakata bahasa Indonesia

By Alfi Rahman

Smong! Smong! Lari!


Tampaknya kita masih gagap menghadapi bencana, melihat apa yang terjadi di Lombok, dan tsunami di Palu dan Donggala Sulawesi Tengah beberapa bulan lalu. Pada 2018, masih seperti pada 2004.

Sangat penting bagi kita semua untuk melakukan perubahan-perubahan yang dapat mentransformasi pemahaman kita tentang bencana alam dan akhirnya menyelamatkan banyak nyawa.

Salah satu cara penting untuk melakukan ini adalah memberi tempat yang istimewa pengetahuan lokal tradisional dan untuk mengenang kejadian dahsyat tersebut. Minggu depan adalah peringatan ke-14 tsunami Aceh.

Kerangka Kerja Internasional untuk Pengurangan Resiko Bencana (PRB) atau Kerangka Sendai untuk Pengurangan Resiko Bencana (SFDRR) 2015-2030 telah menekankan pentingnya menggunakan pengetahuan lokal. Untuk mengurangi risiko bencana, kita perlu menciptakan suatu dinamika sosial yang memperkuat pengetahuan lokal di setiap individu dan masyarakat secara keseluruhan.

Kekuatan kearifan lokal

Salah satu contoh pengetahuan lokal yang telah menyelamatkan nyawa berasal dari Pulau Simeulue, Aceh; yaitu kisah smong: Pada 26 Desember 2004, seorang siswa bernama Almahdi sedang merokok di jembatan tinggi di atas sungai di Banda Aceh. Lahir di Simeulue, ketika gempa terjadi dan laut surut, dia tahu apa yang terjadi selanjutnya. Dia mulai berteriak “Smong! Smong! Lari! Lari!”

Tapi semua orang di dekatnya memandangnya seolah-olah dia orang gila. Mereka tidak tahu arti smong dan tidak lari. Dalam waktu kurang dari satu jam kemudian, banyak dari mereka yang tewas dihantam ombak besar. Almahdi melihat tubuh mereka mengambang di sungai.

Almahdi selamat, tapi dia tidak tahu bahwa semua rekan sekampungnya di Pulau Simeulue juga selamat. Laporan yang ia terima menyebutkan bahwa “Simeulue telah tenggelam” dan dia khawatir akan keadaan yang terburuk selama lebih dari seminggu.

Pengetahuan Almahdi tentang smong berasal dari sebuah peristiwa yang pernah terjadi pada 4 Januari 1907. Gempa berkekuatan 7,6 mengguncang Pulau Simeulue dan beberapa saat kemudian tsunami dahsyat menghancurkan pantai Simeulue. Sejak hari itu, beberapa orang yang selamat bertekad untuk menghormati keluarga yang telah meninggal dan untuk menyelamatkan keturunan mereka jika terjadi peristiwa yang sama dengan menceritakan kisah smong kepada anak-anak dan cucu mereka.

Hampir 100 tahun kemudian, pada 26 Desember 2004, semua penduduk 70.000 orang di Simeulue diingatkan tentang smong oleh gempa berkekuatan 9,2. Mereka berlari ke bukit dan menyaksikan gelombang raksasa menghancurkan rumah-rumah mereka. Kearifan smong, dipertahankan selama 97 tahun, menyelamatkan hidup mereka.

Menarik perhatian

Dalam beberapa tahun terakhir kata smong telah menarik para peneliti internasional yang berusaha memperdalam pemahaman akan fenomena tersebut. Smong adalah pengetahuan lokal masyarakat Simeulue, dan sebelum 2004 tidak diketahui oleh orang luar.

United Nations International Strategy for Disaster Reduction (UNISDR) memberikan penghargaan UN Sasakawa Award kepada orang-orang Simeulue pada 12 Oktober 2005. Penghargaan diberikan di Bangkok, Thailand, sebagai penghargaan atas upaya, dan untuk mendorong, mereka untuk berkontribusi pada sebuah budaya lokal untuk pencegahan bencana, dengan demikian mempromosikan tujuan dari strategi internasional untuk pengurangan bencana.

Sekarang kebanggaan mereka terhadap kata smong telah menjadi kebanggaan masyarakat Aceh secara keseluruhan dan diadopsi dalam berbagai upaya beradaptasi dengan bencana gempa dan tsunami. Orang-orang Simeulue, sangat menghargai bantuan yang data dari berbagai kalangan atas rekonstruksi pascabencana 2004, ingin menumbuhkan kebanggaan “keampuhan” smong ke tingkat nasional. Mereka ingin memberikan smong sebagai hadiah untuk dimiliki oleh orang Indonesia secara keseluruhan. Mereka merasa bahwa kata smong harus menjadi bagian dari kosakata Indonesia, memberikan dasar untuk pemahaman baru tentang bencana tsunami.

Pengaruh smong itu telah diuji dalam bencana gempa bumi dan tsunami 26 Desember 2004 dengan hasil yang mengesankan. Keberadaan kata dalam bahasa memberikan definisi (untuk mengetahui sesuatu, atau know what) yang terkait dengan pemahaman (untuk memahami cara, atau know how). Pengetahuan ini telah menggerakkan masyarakat Simeulue untuk dapat mengambil tindakan cepat dan tepat ketika membaca tanda-tanda alam gempa bumi dan tsunami.

Ada istilah lain untuk tsunami di seluruh kepulauan Indonesia. Di daratan Aceh ada istilah Ie-beuna yang dikenal di Banda Aceh dan Aceh Besar, sedangkan di Singkil mereka menamakan tsunami dengan sebutan Gloro. Seiring waktu, bagaimana pun, pengetahuan yang terkait dengan kata-kata ini telah memudar. Banyak nyawa melayang sebagai hasilnya.

Smong berasal dari bahasa Devayan Simeulue dan mengacu pada kejadian dengan runutan gempa/laut surut/gelombang raksasa yang khas dari peristiwa tsunami di Indonesia. Istilah ini dibagi dalam lagu-lagu tradisional Simeulue, nandong:

Enggel mon sao curito (Dengarlah cerita ini) / Inang maso semonan (Suatu hari pada masa lalu) / Manoknop sao fano (Desa kami tenggelam) / Di ne alek linon (Dimulai dengan gempa bumi) / Fesang bakat nemali (Kemudian diikuti oleh naiknya ombak ) / Manoknop sao hampong (Tenggelam seluruh desa) Tibo-tibo mawi (Segera) / Anga linon ne mali (Jika gempa bumi kuat terjadi) / Uwek suruik sahuli (Diikuti oleh surutnya air laut) / Maheya mihawali (Cepat-cepatlah) / Fano saya senga tenggi (Berlari ke tempat yang lebih tinggi).

Masyarakat Simeulue dengan cerdik menutup semua cerita dengan menempatkan kalimat berikut: Eda Smong kahanne (Itu yang kami sebut smong).

Bentuk lagu yang sangat emosional ini dinyanyikan pada pertemuan sosial dan pernikahan. Penceritaan kisah yang sama secara teratur merupakan sistem yang sangat sederhana, tapi memiliki kekuatan untuk memindahkan orang dan menyelamatkan nyawa.

Mengapa smong perlu dimasukkan ke dalam kosakata Indonesia dan sering dipakai?

Meski Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) daring edisi kelima telah menambahkan kata “semong” sebagai padanan kata “tsunami”, mayoritas peneliti menggunakan kata “smong” – tanpa “e” – dalam artikel mereka seperti McAdoo dkk. (2006)Syafwina (2014), dan Sany (2007). Definisi kata “semong” dalam KBBI tersebut belum menggambarkan bahwa makna “smong” lebih dari sekadar tsunami dan mengandung pesan pengurangan risiko bencana.

KBBI juga mencatat istilah Jepang “tsunami” untuk apa yang orang Simeuluean sebut smong.

Kenyataannya, di Jepang, ada variasi dalam istilah yang digunakan untuk menggambarkan fenomena alam yang kita kenal sebagai tsunami seperti onami (gelombang besar) , shakainamisu (naik gelombang mencapai tanah) dll. Kata spesifik tsunami dalam bahasa Jepang berasal dari dua istilah: “tsu”, yang berarti pelabuhan, dan “nami” yang artinya gelombang. Yaitu sebuah gelombang pelabuhan.

Jika dilihat dari akar kata ini, seseorang memiliki pemahaman yang tidak lengkap tentang bahaya alam. Apakah gelombang ini hanya menyapu pelabuhan? Apakah saya aman di pantai? Ini tidak jelas.

Meski demikian, “tsunami” sekarang digunakan secara internasional, menggantikan kata “gelombang pasang” pada sebagian besar bahasa pada 1980-an. Tentu saja, “gelombang pasang” adalah gambaran yang lebih buruk dari fenomena gelombang raksasa, yang tidak ada hubungannya dengan pasang.

Ada beberapa alasan kuat untuk menjadikan smong bagian dari kosakata bahasa Indonesia dan perlu sering dipakai dalam bahasa formal maupun informal.

Smong menggambarkan kompleksitas bahaya alam yang selalu terjadi di Indonesia. Dengan 46% pantai di Indonesia bisa terkena gelombang begitu besar, smong secara geografis relevan.

Smong adalah simbol pengakuan internasional tentang peran pengetahuan lokal dalam mengurangi risiko bencana sebagaimana dinyatakan dalam SFDRR 2015-2030.

Smong adalah satu kata yang diketahui telah menyelamatkan banyak nyawa.

Smong telah diakui secara global dan merupakan sumber kebanggaan bagi Simeulue, Aceh, dan Indonesia.

Smong mengingatkan kita tentang pentingnya dan kekuatan pengetahuan lokal.

Smong terdengar seperti suatu kata bahasa Indonesia, cocok dan membuat pelafalan lokal menjadi mudah.

Smong lahir dari rahim orang Indonesia sendiri, jadi harus diterima sebagai kekayaan nasional.

Yang paling penting, smong memberikan basis suatu diskusi nasional baru tentang bahaya alam yang menghancurkan.

Istilah smong adalah “cantolan” yang semua orang Indonesia agar dapat menggantungkan pemahaman baru tentang cara menyelamatkan diri, anak-anak, dan cucu-cucu mereka. Pengetahuan tentang smong memiliki potensi untuk secara substansial mengurangi, dan bahkan mungkin menghilangkan, korban dari gelombang laut raksasa.

Memulai kata smong dalam kosakata bahasa Indonesia tidak berarti menghilangkan kata tsunami, yang sekarang menjadi kata internasional. Tapi penerimaan kita terhadap smong harus menjadi sumber kebanggaan dalam perlindungan kekayaan terbesar kita-rakyat kita.

Orang-orang Simeulue telah menawarkan sebuah hadiah kepada Indonesia, kata smong; Almahdi masih berharap orang-orang di Banda Aceh mengerti dia berteriak smong pada hari yang mengerikan pada 2004. Dia dan semua orang Simeulue sekarang ingin semua orang Indonesia memiliki pengetahuan, identitas dan kebanggaan smong.

Catatan Editor: Penulis telah menambahkan satu paragraf tentang kata “semong” yang dimuat dalam KBBI edisi kelima.

Cerita lisan Simeulue yang selamatkan penduduk dari amukan tsunami terdahsyat

File 20181022 105761 4s59o6.jpg?ixlib=rb 1.1
Laki-laki melihat daftar dan foto orang-orang yang hilang setelah gempa dan tsunami di Palu, 8 Oktober 2018.
STR/EPA

Alfi Rahman, Universitas Syiah Kuala

Gempa bumi disusul likuifaksi dan tsunami di Palu dan Donggala, Sulawesi Tengah, akhir September lalu, telah menyebabkan kerusakan bangunan dan infrastruktur dengan nilai kerugian sementara mencapai hampir Rp14 triliun.

Data terbaru menyebut, setidaknya, lebih dari 2000 orang tewas. Masa tanggap darurat gempa dan tsunami di sana akan berakhir 26 Oktober 2018 dan kini pemulihan untuk memenuhi kebutuhan dasar pengungsi, layanan medis, dan pembenahan infrastruktur dasar dikebut oleh Badan Penanggulangan Bencana dan tim tanggap darurat lainnya.

Setelah gempa bumi dan tsunami menghantam Aceh pada 2004, serangkaian upaya peningkatan kapasitas telah dilakukan pemerintah. Salah satunya membuat Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana untuk mencegah jatuhnya korban lebih banyak dan pemulihan pascabencana. Pengelolaan bencana Indonesia mulai bergerak dari yang sebelumnya bersifat responsif menjadi lebih komprehensif. Pemerintah membentuk Badan Penanggulangan Bencana pada level nasional, provinsi, dan kabupaten.

Indonesia juga telah mengembangkan sistem peringatan dini tsunami yang dikenal dengan Indonesia Early Warning System (InaTEWS), walau dalam kasus tsunami di Palu dipertanyakan kemampuan sistem tersebut menyelamatkan orang-orang di tepi pantai saat terjadi tsunami.

Apa yang terjadi di Palu dan Donggala memperlihatkan bahwa kompleksitas bencana masih jauh dari apa yang telah diupayakan selama ini. Bukan hanya soal teknologi mitigasi yang perlu ditingkatkan, tapi juga budaya dan tradisi masyarakat ikut berperan meminimalkan risiko bencana. Lalu bagaimana peran budaya dan tradisi “anti-bencana” ikut menyelamatkan penduduk?

Pentingnya tradisi lokal

Indonesia merupakan negara kepulauan yang memiliki budaya dan pengetahuan lokal yang kaya dan beragam. Pengetahuan lokal tersebut lahir sebagai wujud dari adaptasi masyarakat dengan perubahan lingkungannya. Salah satunya adalah cerita tentang pengetahuan lokal masyarakat Kepulauan Simeulue, yang disebut Smong. Pulau Simeulue yang terletak di pantai Barat Provinsi Aceh ini menyimpan pengetahuan lokal yang berkaitan dengan tsunami.

Riset kami yang baru-baru ini dimuat di International Journal of Disaster Risk Reduction memperlihatkan bahwa pengetahuan lokal masyarakat Simeulue tentang Smong mengalami pasang surut. Pengetahuan ini redup sebelum 1907 dan menguat kembali setelah era itu hingga berhasil menyelamatkan masyarakat dari badai tsunami terdahsyat pada 2004.

Pengetahuan masyarakat Simeulue tersebut telah menyelamatkan mereka dari amukan tsunami pada 2004. Di pulau ini, hanya tiga orang dari sekitar 70 ribu penduduknya saat itu dilaporkan meninggal akibat terjangan gelombang dahsyat tersebut. Pengetahuan itu yang menggerakkan dan menyelamatkan mereka. Total korban tewas akibat gelombang tsunami setinggi 30 meter itu mencapai 230.000–280.000 jiwa di 14 negara, Indonesia termasuk negara yang paling parah terkena dampaknya.

Adapun nenek moyang orang Palu menyebut gempa bumi sebagai Linu, tsunami dinamakan Bombatalu. Sedangkan likuifaksi mereka sebut sebagai Nalodo yang berarti amblas ditelan bumi.

Masyarakat di daratan Singkil, menyebut tsunami dengan sebutan Gloro, sedangkan masyarakat yang tinggal di Banda Aceh dan Aceh Besar menyebut tsunami sebagai Ie-Beuna.

Smong yang menggerakan

Kisah Smong diperkirakan telah lama dikenal oleh masyarakat Simeulue, bahkan jauh sebelum terjadinya tsunami 1907. Gempa bumi pada 1907 dengan Magnitudo 7,6 diikuti tsunami merupakan sejarah kelam kebencanaan dalam kehidupan masyarakat Simeulue.

Banyak yang menceritakan bahwa lebih dari setengah penduduk Simeulue tewas akibat peristiwa tersebut (tidak ada catatan pasti berapa jumlah penduduk Simeulue saat itu). Peristiwa kelam itu akhirnya dituangkan ke dalam kisah Smong yang dituturkan secara lisan. Tetua masyarakat Simeulue meyakini bahwa peristiwa tersebut dapat berulang di kemudian hari.

Meski Smong telah dikenal jauh sebelum peristiwa tsunami 1907, Smong tersebut tidak mampu menyelamatkan mereka dari amukan gelombang dahsyat yang terjadi lebih dari seabad lalu. Perkembangan Smong mulai tertanam dan terkuatkan setelah kejadian tersebut.

Kata Smong berasal dari bahasa Devayan, artinya hempasan gelombang. Penutur bahasa Devayan pada umumnya adalah masyarakat yang tinggal di bagian selatan Pulau Simeulue. Sementara itu terdapat bahasa daerah lain yaitu bahasa Sigulai yang dituturkan oleh masyarakat yang tinggal di bagian utara pulau tersebut.

Sedangkan masyarakat yang tinggal di Desa Langi dan Lafakha, yang terletak di barat daya Pulau Simeulue, menggunakan bahasa Lekon. Tidak ada perbedaan yang signifikan antara ke tiga penutur bahasa daerah tersebut dalam penyebutan Smong.

Kisah dalam Nafi-nafi

Kisah Smong tersimpan dalam salah satu budaya lokal masyarakat Simeulue yang disebut Nafi-nafi. Nafi-nafi adalah salah satu budaya tutur masyarakat Simeulue berupa cerita (story telling) yang berkisah tentang kejadian pada masa lalu.

Cerita ini mengandung pembelajaran untuk disampaikan kepada masyarakat terutama anak-anak pada waktu-waktu tertentu seperti setelah memanen cengkeh, saat anak-anak berkumpul selepas salat Magrib dan membaca Al-Quran. Kisah yang terdapat di dalam Nafi-nafi sangat bervariasi, dan salah satunya adalah kisah tentang Smong.

Smong di dalam Nafi-nafi berkisah tentang kejadian tsunami pada 1907. Kisah ini menceritakan runut kejadian tsunami yaitu gempa bumi besar, air laut surut, dan air laut naik ke darat.

Salah satu contoh kisah Smong dalam Nafi-nafi sebagai berikut:

“Ini adalah kisah penuh hikmah, pada zaman dahulu kala, tahun tujuh. Para kakek kalian yang mengalaminya. Mereka menceritakan kisah ini, agar menjadi pengalaman hidup. Waktu itu hari Jum’at, masih termasuk pagi hari. Tiba tiba terjadi gempa bumi. Sangking kuatnya, orang-orang tidak dapat berdiri dan setelahnya air laut surut, ikan-ikan menggelepar di pantai sehingga menarik sebagian orang dan mengambilnya.

Tidak lama kemudian tampak gelombang besar dari tengah lautan, menuju ke daratan. Orang tua berteriak ‘Smong! Smong! Smong!’ Namun, banyak orang tidak sempat menyelamatkan diri ke atas gunung. Setelah Smong reda, orang-orang mencoba kembali ke desa dan menemukan banyak penduduk yang meninggal. Banyak korban tersangkut di atas pohon dan bahkan dijumpai pula korban yang terdampar di kaki bukit atau gunung”.

Kisah Smong juga menceritakan tindakan yang perlu dilakukan yaitu segera menjauhi pantai atau menyelamatkan diri ke tempat yang lebih tinggi seperti bukit. Di samping itu perlu membekali diri dengan membawa beberapa barang seperti beras, gula, garam, korek api, baju dll. Bekal tersebut diperlukan selama di tempat pengungsian sementara.

Kisah Smong dalam Nafi-nafi tersebut mengandung pula anjuran untuk mendiseminasikannya kepada generasi selanjutnya.

Penguatan pengetahuan lokal

Pascatsunami 2004, penguatan Smong dilakukan melalui saluran tradisional masyarakat Simeulue lainnya yaitu Nandong dan berbagai upaya lainnya. Nandong adalah seni tradisional masyarakat Kepulauan Simeulue berupa nyanyian. Namun kebanyakan upaya tersebut belum tersistematis dan berkelanjutan.

Penguatan ini lebih didominasi oleh inisiasi dari pihak luar seperti LSM dan lembaga donor dibandingkan dengan kebijakan yang berkelanjutan dari pemerintah daerah.

Pada umumnya inisiasi tersebut terlihat massif pada masa pemulihan dan semakin menurun intensitas dan keberlanjutannya seiring berjalannya waktu. Padahal, gempa bumi dan tsunami bisa terjadi kapan pun. Artinya, perlu dipastikan bahwa penguatan harus berkelanjutan sepanjang waktu karena generasi terus berganti. Generasi tua meninggal digantikan oleh generasi yang baru lahir, yang belum pernah menyaksikan peristiwa tsunami secara langsung.

Memperkuat kapasitas pengelolaan kebencanaan yang lebih komprehensif tetap harus dilakukan tanpa melupakan pengetahuan lokal yang telah ada di masyarakat itu sendiri. Diperlukan upaya pencatatan pengetahuan lokal ini dengan mendokumentasikannya sehingga dapat lebih mudah diakses, berkelanjutan, dan bahkan perlu pula diintegrasikan ke dalam kurikulum pendidikan.

Alfi Rahman, Researcher at Tsunami and Disaster Mitigation Research Center (TDMRC), Universitas Syiah Kuala

Artikel ini terbit pertama kali di The Conversation. Baca artikel sumber.

Semalam di Kamaishi

Program “homestay” adalah kegiatan yang tepat untuk dapat mengenal Jepang lebih dekat, baik budaya, makanan dan bagaimana mereka melalui kehidupannya sehari-hari. Dan… kami (saya, Steven dan Big) akhirnya memiliki kesempatan untuk bermalam dengan keluarga Okayo-san  yang tinggal di pegunungan kota Kamaishi, prefektur Iwate, Tohoku. Meskipun hanya satu malam, terdapat banyak hal yang dapat diambil pelajaran. Apalagi Kamaishi adalah salah satu destinasi  yang masuk di dalam daftar list perjalanan saya.

Kamaishi (釜石市) adalah sebuah kota tua yang terletak di pantai ria Sanriku di bagian utara Jepang. Terkenal dengan pantainya yang indah serta hasil lautnya yang kaya.

_DSF6324
Okayo-san dan Kiyomi-san

Setelah menempuh 3 jam perjalan dari Sendai dengan menggunakan bis,  kami menghirup udara segar kota Kamaishi.

“Perkenalkan ini Okayo-san yang merupakan pemilik rumah dimana kalian akan menginap malam ini,” kata Jess kepada kami. Seorang wanita Jepang tua yang saya perkirakan umurnya sedikit lebih muda dari Ibu saya. Senyumnya mengembang usai sedikit membungkuk menunjukkan keramahan khas Jepang.

“I am Kiyomi” ujar seorang wanita yang lebih muda dari Okayo-san, kemudian menjelaskan jika ia seorang relawan yang mengerjakan beberapa proyek sosial di Kamaishi pascatsunami 2011 yang lalu dan sangat fasih dalam berbahasa Inggris. Kiyomi-san lebih tepatnya menjadi penerjemah antara saya (hanya saya yang tidak bisa berbahasa Jepang hehe) dan Okayo-san.

“Dozo!”  Okayo-san mempersilakan kami bertiga masuk ke dalam mobilnya, setelah memperkenalkan diri kami masing-masing. Kami bergegas masuk, seketika udara hangat menyambut untuk sejenak menghilangkan rasa dingin yang menggigit. Meskipun winter telah usai namun ujungnya dinginnya masih terasa menusuk ke dalam tulang. Apalagi saat itu kami berada tepat dikaki pegunuungan kota Kamaishi. Saya membuka aplikasi weather dan angka 1 derajat celsius terpampang jelas di sana.

“Di kaki bukit saja suhunya demikian rendah apalagi di atas gunung sana,” gumam saya dalam hati

“Heve fun!” Jess mengucapkan kalimat terakhir sambil melambaikan tangan sebelum akhirnya mobil Okayo-san berbelok di tikungan.

Okayo-san mengemudikan mobil dengan tangkas, sesekali ia bercerita tentang rumahnya yang berada di atas pegunungan Kamaishi.

“Kita masih akan menemukan salju dan bongkahan es?” ujarnya sambil tersenyum. Kami saling berpandangan, pikiran saya mengembara sambil memperkirakan berapa derajat suhu yang akan kami rasakan nanti.

_DSF6341
Okayo-san dan mobilnya menembus jalan penggunungan yang masih ditutupi salju

“Rumah saya adalah satu-satunya rumah yang ada di daerah tersebut, dan sangat jauh dari rumah penduduk yang terdekat,” jelas Okayo-san sambil menoleh sedikit ke kursi belakang dimana kami meringkuk untuk selanjutnya matanya awas memerhatikan jalan yang mulai menyempit.

“sayur-sayuran tumbuh subur di daerah pegunungan seperti ini,” tambahnya lagi. Mobil yang kami tumpangi semakin memasuki area yang menanjak, saya mulai melihat tumpukan salju yang telah membeku di semak-semak dari jalan yang kami lalui. Semakin lama tumpukan putih salju semakin banyak dan memenuhi pinggir jalan. Meskipun di dalam mobil terasa hangat, saat memandang tumpukan salju tersebut, rasa dingin yang tiba-tiba hadir (ya beginilah saya yang terbiasa dengan hangatnya matahari tropis hehe)

Saya memandang sekeliling dengan takjub, dipinggir jalan telihat aliran sungai kecil yang merupakan lelehan dari salju yang mulai mencair. Pohon-pohon yang tak lagi berdaun terlihat merana seakan-akan tidak sanggup untuk menahan dingin. Mobil tiba-tiba berhenti.

“Jalan di depan kita baru diperbaiki, karena beberapa waktu yang lalu terjadi hujan dengan intensitas yang tinggi disertai anging kencang yang menyebabkan jalan ini longsor,” Jelas Okayo-san. Kami mangut mangut tanda mengerti.

Setelah melewati jembatan kecil yang hanya muat satu mobil saja, akhirnya kami pun tiba di pekarangan rumah Okayo-san. Seeokor anjing putih mirip serigala yang diikat dengan tali yang sangat panjang menyambut dengan suaranya yang melengking. Rumah Okayo-san dikelilingi oleh pegunungan yang juga tertutup salju. Hari telah menjelang sore dan matahari pun sudah mulai sembunyi di balik pohon-pohon menghasilkan siluet hitam di atas hamparan salju, namun saya masih dapat melihat sekeliling dengan jelas.

Rumah Okayo-san sebagaimana rumah kebanyakan masyarakat pedesaan cukup sederhana. Pintu masuk dibuka dengan cara digeser ke samping langsung memperlihatkan tempat melepas sepatu. Setelah meletakan sepatu serta memakai sendal rumah, Okayo-san mempersilakan kami masuk. Ruangan yang langsung kami jumpai adalah ruang makan. Kemudian ia memandu kami ke kamar. Terdapat dua kamar yang berbeda yaitu kamar yang dilengkapi dengan dipan dan satu kamar lagi berupa hamparan futon dan selimut yang berlapis-lapis. Kami akhirnya memilih kamar yang tradisional berupa futon dengan selimut tebalnya.

FullSizeRender
Anjing Okayo-san, jenis anjing gunung yang berbulu putih

Usai meletakkan barang-barang kami di kamar, Kiyomi-san mengajak kami ke dapur untuk bersama-sama mempersiapkan makan malam.

Sejak awal Okayo-san telah diberitahu jika saya memerlukan makanan yang halal.

“Tenang saja, saya sudah terbiasa dengan tamu-tamu Muslim yang datang dan menginap di sini, tahun lalu beberapa orang pelajar dari Turki, Pakistan juga pernah menginap di sini,” jelas Okayo-san sambil memperlihatkan photo-photo tamu yang pernah mengunjungi dan menginap di rumahnya. Saya pun tersenyum sambil mengucapkan terima kasih atas usaha mereka menyediakan dan memastikan jika saya memerlukan makanan halal.

Okayo-san meminta kami untuk membantu membuat adonan soba, kemudian bercerita jika ia memiliki keahlian dalam membuat masakan-masakan traditional Jepang. Keahliannya tersebut telah membuatpemerintah setempat memintanya untuk mengajarkan komunitas di daerah tersebut dalam menyajikan makanan dari hasil pertanian yang mereka kelola sendiri.

“Hampir semua bahan makanan ini bersumber dari kebun Okayo-san” jelas Kiyomi-san antusias sambil memotong-motong sayur.

“Tahun lalu kami mengundang Okayo-san ke Tokyo untuk menjadi pembicara di sebuah workshop tentang masakan tradisional Jepang,” Kiyomi-san menambahkan, mendengar itu Okayo-san pun tersenyum membenarkan.

“Kalau begitu kami beruntung sekali merasakan masakan dari seorang koki yang terkenal dan profesional,” celutuk saya, disambut gelak Okayo-san.

Saya dikejutkan bunyi alarm yang ternyata tanda adonan Soba telah siap untuk digiling. Steven salah seorang teman saya menggiling adonan tersebut sesuai dengan petunjuk dari Okayo-san. Okayo-san mengatakan bahwa tanda adonan telah siap digiling adalah dengan memijat adonan tersebut perlahan, jika sudah mirip dengan rasa pijatan di daun telinga maka adonan tersebut telah siap untuk digiling.

“Subarashi! tak henti Okayo-san berujar setiap kali melihat Steven menyelesaikan tahap demi tahap proses pembuatan soba yang artinya kira-kira “keren”.

Setelah lebih kurang satu jam, menu makan malam telah lengkap di atas meja. Percakapan di dapur berlanjut di atas meja makan. Hari itu nasi yang dimasak Okayo-san sangat khusus dari beras yang spesial. Nasinya perpaduan antara nasi biasa dan nasi ketan. Rasanya sangat gurih sekali.

Cerita di atas meja makan berlanjut demikian mengalirnya. Kami mendengarkan kisah masa muda Okayo-san serta kehidupannya yang tidak mudah karna ia juga merawat adik-adiknya. Keramahannya sebagai tuan rumah membuat kami merasa seperti di rumah sendiri. Sesekali Koyami-san menambahkan cerita tentang program-program mereka dalam melakukan recovery setelah tsunami 2011.

“Okayo-san,” ujar saya saat suasana sudah mulai agak tenang dari percakapan yang tiada henti.

“Haik!” jawabnya

“Saya memiliki omiyage (oleh-oleh) untuk Okayo-san! tunggu sebentar,” ujar saya memberitahu, kemudian bergegas sejenak ke kamar untuk mengambil sesuatu dan kembali ke ruang makan. Kemudian saya menyerahkan buah tangan khas Aceh berupa coffee bean (kopi Aceh), kipas khas Aceh dll.  Okayo-san terlihat sangat senang sekali.

“Arigatoe!” katanya tiada henti dengan mata berbinar

Ia menciumi biji-biji kopi yang telah di-roasting itu sambil menutup mata

“Oishii” katanya bersemangat.

Ia pun bergegas mengeluarkan peralatan untuk memadu kopi. Acara kami berlanjut dengan menggiling biji-biji kopi tersebut dengan cara yang sangat manual yaitu alat yang diputar pakai tangan (kenapa tidak membawa yang bubuk kopi saja ya hehe). Kemudian acara minum kopi-pun menjadi agenda tambahan berikutnya. Sebagai hasilnya mata kami masih cerah ceria meski malam telah larut. Namun Okayo-san pamit terlebih dahulu untuk beristirahat karena beliau harus bangun lebih awal untuk mempersiapkan sarapan pagi.

_DSF6398
Oleh-oleh “Omiyage” dari Aceh

Benar saja, saat saya bangun dipagi buta untuk shalat Subuh, Okayo-san sudah berada di dapur dengan segala kesibukannya. Ia  tidak terlalu terkejut saat saya mengucapkan Ohaiyo Gozaimas. Sepertinya dia telah tau jika saya akan menunaikan shalat subuh sebagaimana tamu-tamu muslim yang pernah berkunjung ke tempatnya.

17426228_10207032536246860_7219370971313049265_n
Di pintu depan rumah Okayo-san

Keesokan harinya kami harus pamit pagi-pagi sekali karena akan mengikuti kegiatan selanjutnya. Keramahannya sangat membekas di hati kami. Sebelum berpisah ia pun menyampaikan pesan untuk datang kembali ke rumahnya jika kami memiliki kesempatan di masa yang akan datang.

#gogotohoku #kamaishi #iwate #tohoku #japan #travel #recovery #japantravel