Semalam di Kamaishi

Program “homestay” adalah kegiatan yang tepat untuk dapat mengenal Jepang lebih dekat, baik budaya, makanan dan bagaimana mereka melalui kehidupannya sehari-hari. Dan… kami (saya, Steven dan Big) akhirnya memiliki kesempatan untuk bermalam dengan keluarga Okayo-san  yang tinggal di pegunungan kota Kamaishi, prefektur Iwate, Tohoku. Meskipun hanya satu malam, terdapat banyak hal yang dapat diambil pelajaran. Apalagi Kamaishi adalah salah satu destinasi  yang masuk di dalam daftar list perjalanan saya.

Kamaishi (釜石市) adalah sebuah kota tua yang terletak di pantai ria Sanriku di bagian utara Jepang. Terkenal dengan pantainya yang indah serta hasil lautnya yang kaya.

_DSF6324
Okayo-san dan Kiyomi-san

Setelah menempuh 3 jam perjalan dari Sendai dengan menggunakan bis,  kami menghirup udara segar kota Kamaishi.

“Perkenalkan ini Okayo-san yang merupakan pemilik rumah dimana kalian akan menginap malam ini,” kata Jess kepada kami. Seorang wanita Jepang tua yang saya perkirakan umurnya sedikit lebih muda dari Ibu saya. Senyumnya mengembang usai sedikit membungkuk menunjukkan keramahan khas Jepang.

“I am Kiyomi” ujar seorang wanita yang lebih muda dari Okayo-san, kemudian menjelaskan jika ia seorang relawan yang mengerjakan beberapa proyek sosial di Kamaishi pascatsunami 2011 yang lalu dan sangat fasih dalam berbahasa Inggris. Kiyomi-san lebih tepatnya menjadi penerjemah antara saya (hanya saya yang tidak bisa berbahasa Jepang hehe) dan Okayo-san.

“Dozo!”  Okayo-san mempersilakan kami bertiga masuk ke dalam mobilnya, setelah memperkenalkan diri kami masing-masing. Kami bergegas masuk, seketika udara hangat menyambut untuk sejenak menghilangkan rasa dingin yang menggigit. Meskipun winter telah usai namun ujungnya dinginnya masih terasa menusuk ke dalam tulang. Apalagi saat itu kami berada tepat dikaki pegunuungan kota Kamaishi. Saya membuka aplikasi weather dan angka 1 derajat celsius terpampang jelas di sana.

“Di kaki bukit saja suhunya demikian rendah apalagi di atas gunung sana,” gumam saya dalam hati

“Heve fun!” Jess mengucapkan kalimat terakhir sambil melambaikan tangan sebelum akhirnya mobil Okayo-san berbelok di tikungan.

Okayo-san mengemudikan mobil dengan tangkas, sesekali ia bercerita tentang rumahnya yang berada di atas pegunungan Kamaishi.

“Kita masih akan menemukan salju dan bongkahan es?” ujarnya sambil tersenyum. Kami saling berpandangan, pikiran saya mengembara sambil memperkirakan berapa derajat suhu yang akan kami rasakan nanti.

_DSF6341
Okayo-san dan mobilnya menembus jalan penggunungan yang masih ditutupi salju

“Rumah saya adalah satu-satunya rumah yang ada di daerah tersebut, dan sangat jauh dari rumah penduduk yang terdekat,” jelas Okayo-san sambil menoleh sedikit ke kursi belakang dimana kami meringkuk untuk selanjutnya matanya awas memerhatikan jalan yang mulai menyempit.

“sayur-sayuran tumbuh subur di daerah pegunungan seperti ini,” tambahnya lagi. Mobil yang kami tumpangi semakin memasuki area yang menanjak, saya mulai melihat tumpukan salju yang telah membeku di semak-semak dari jalan yang kami lalui. Semakin lama tumpukan putih salju semakin banyak dan memenuhi pinggir jalan. Meskipun di dalam mobil terasa hangat, saat memandang tumpukan salju tersebut, rasa dingin yang tiba-tiba hadir (ya beginilah saya yang terbiasa dengan hangatnya matahari tropis hehe)

Saya memandang sekeliling dengan takjub, dipinggir jalan telihat aliran sungai kecil yang merupakan lelehan dari salju yang mulai mencair. Pohon-pohon yang tak lagi berdaun terlihat merana seakan-akan tidak sanggup untuk menahan dingin. Mobil tiba-tiba berhenti.

“Jalan di depan kita baru diperbaiki, karena beberapa waktu yang lalu terjadi hujan dengan intensitas yang tinggi disertai anging kencang yang menyebabkan jalan ini longsor,” Jelas Okayo-san. Kami mangut mangut tanda mengerti.

Setelah melewati jembatan kecil yang hanya muat satu mobil saja, akhirnya kami pun tiba di pekarangan rumah Okayo-san. Seeokor anjing putih mirip serigala yang diikat dengan tali yang sangat panjang menyambut dengan suaranya yang melengking. Rumah Okayo-san dikelilingi oleh pegunungan yang juga tertutup salju. Hari telah menjelang sore dan matahari pun sudah mulai sembunyi di balik pohon-pohon menghasilkan siluet hitam di atas hamparan salju, namun saya masih dapat melihat sekeliling dengan jelas.

Rumah Okayo-san sebagaimana rumah kebanyakan masyarakat pedesaan cukup sederhana. Pintu masuk dibuka dengan cara digeser ke samping langsung memperlihatkan tempat melepas sepatu. Setelah meletakan sepatu serta memakai sendal rumah, Okayo-san mempersilakan kami masuk. Ruangan yang langsung kami jumpai adalah ruang makan. Kemudian ia memandu kami ke kamar. Terdapat dua kamar yang berbeda yaitu kamar yang dilengkapi dengan dipan dan satu kamar lagi berupa hamparan futon dan selimut yang berlapis-lapis. Kami akhirnya memilih kamar yang tradisional berupa futon dengan selimut tebalnya.

FullSizeRender
Anjing Okayo-san, jenis anjing gunung yang berbulu putih

Usai meletakkan barang-barang kami di kamar, Kiyomi-san mengajak kami ke dapur untuk bersama-sama mempersiapkan makan malam.

Sejak awal Okayo-san telah diberitahu jika saya memerlukan makanan yang halal.

“Tenang saja, saya sudah terbiasa dengan tamu-tamu Muslim yang datang dan menginap di sini, tahun lalu beberapa orang pelajar dari Turki, Pakistan juga pernah menginap di sini,” jelas Okayo-san sambil memperlihatkan photo-photo tamu yang pernah mengunjungi dan menginap di rumahnya. Saya pun tersenyum sambil mengucapkan terima kasih atas usaha mereka menyediakan dan memastikan jika saya memerlukan makanan halal.

Okayo-san meminta kami untuk membantu membuat adonan soba, kemudian bercerita jika ia memiliki keahlian dalam membuat masakan-masakan traditional Jepang. Keahliannya tersebut telah membuatpemerintah setempat memintanya untuk mengajarkan komunitas di daerah tersebut dalam menyajikan makanan dari hasil pertanian yang mereka kelola sendiri.

“Hampir semua bahan makanan ini bersumber dari kebun Okayo-san” jelas Kiyomi-san antusias sambil memotong-motong sayur.

“Tahun lalu kami mengundang Okayo-san ke Tokyo untuk menjadi pembicara di sebuah workshop tentang masakan tradisional Jepang,” Kiyomi-san menambahkan, mendengar itu Okayo-san pun tersenyum membenarkan.

“Kalau begitu kami beruntung sekali merasakan masakan dari seorang koki yang terkenal dan profesional,” celutuk saya, disambut gelak Okayo-san.

Saya dikejutkan bunyi alarm yang ternyata tanda adonan Soba telah siap untuk digiling. Steven salah seorang teman saya menggiling adonan tersebut sesuai dengan petunjuk dari Okayo-san. Okayo-san mengatakan bahwa tanda adonan telah siap digiling adalah dengan memijat adonan tersebut perlahan, jika sudah mirip dengan rasa pijatan di daun telinga maka adonan tersebut telah siap untuk digiling.

“Subarashi! tak henti Okayo-san berujar setiap kali melihat Steven menyelesaikan tahap demi tahap proses pembuatan soba yang artinya kira-kira “keren”.

Setelah lebih kurang satu jam, menu makan malam telah lengkap di atas meja. Percakapan di dapur berlanjut di atas meja makan. Hari itu nasi yang dimasak Okayo-san sangat khusus dari beras yang spesial. Nasinya perpaduan antara nasi biasa dan nasi ketan. Rasanya sangat gurih sekali.

Cerita di atas meja makan berlanjut demikian mengalirnya. Kami mendengarkan kisah masa muda Okayo-san serta kehidupannya yang tidak mudah karna ia juga merawat adik-adiknya. Keramahannya sebagai tuan rumah membuat kami merasa seperti di rumah sendiri. Sesekali Koyami-san menambahkan cerita tentang program-program mereka dalam melakukan recovery setelah tsunami 2011.

“Okayo-san,” ujar saya saat suasana sudah mulai agak tenang dari percakapan yang tiada henti.

“Haik!” jawabnya

“Saya memiliki omiyage (oleh-oleh) untuk Okayo-san! tunggu sebentar,” ujar saya memberitahu, kemudian bergegas sejenak ke kamar untuk mengambil sesuatu dan kembali ke ruang makan. Kemudian saya menyerahkan buah tangan khas Aceh berupa coffee bean (kopi Aceh), kipas khas Aceh dll.  Okayo-san terlihat sangat senang sekali.

“Arigatoe!” katanya tiada henti dengan mata berbinar

Ia menciumi biji-biji kopi yang telah di-roasting itu sambil menutup mata

“Oishii” katanya bersemangat.

Ia pun bergegas mengeluarkan peralatan untuk memadu kopi. Acara kami berlanjut dengan menggiling biji-biji kopi tersebut dengan cara yang sangat manual yaitu alat yang diputar pakai tangan (kenapa tidak membawa yang bubuk kopi saja ya hehe). Kemudian acara minum kopi-pun menjadi agenda tambahan berikutnya. Sebagai hasilnya mata kami masih cerah ceria meski malam telah larut. Namun Okayo-san pamit terlebih dahulu untuk beristirahat karena beliau harus bangun lebih awal untuk mempersiapkan sarapan pagi.

_DSF6398
Oleh-oleh “Omiyage” dari Aceh

Benar saja, saat saya bangun dipagi buta untuk shalat Subuh, Okayo-san sudah berada di dapur dengan segala kesibukannya. Ia  tidak terlalu terkejut saat saya mengucapkan Ohaiyo Gozaimas. Sepertinya dia telah tau jika saya akan menunaikan shalat subuh sebagaimana tamu-tamu muslim yang pernah berkunjung ke tempatnya.

17426228_10207032536246860_7219370971313049265_n
Di pintu depan rumah Okayo-san

Keesokan harinya kami harus pamit pagi-pagi sekali karena akan mengikuti kegiatan selanjutnya. Keramahannya sangat membekas di hati kami. Sebelum berpisah ia pun menyampaikan pesan untuk datang kembali ke rumahnya jika kami memiliki kesempatan di masa yang akan datang.

#gogotohoku #kamaishi #iwate #tohoku #japan #travel #recovery #japantravel

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s