Menapak Tanah Petani “Oshin”, Yamagata

Photo Credit by Athsuki Suzuki
Road from Toge to Yonezawa in Yamagata Prefecture

Saya merapatkan jaket karena udara dingin menyelinap memasuki pori-pori kulit saat baru saja keluar dari Kereta yang menghantarkan saya dan dua teman di sebuah stasiun paling sunyi yang pernah saya kunjungi. Stasiun Toge, prefektur Yamagata adalah nama pemberhentian kami kali ini. Saya memerhatikan sekeliling, tak terlihat seorang pun selain kami bertiga. Lalu saya mencoba merapatkan kedua telapak tangan dan menggeseknya dengan harapan akan menghasilkan panas. Salah seorang teman saya mengarahkan kami menuju jalan keluar.  Kami pun bergegas menuju arah yang ditunjuknya. Di ujung gerbang terlihat seorang Ibu Jepang menenteng dua payung. Dialah satu-satunya orang yang tampak di ujung pintu stasiun dan menyambut kedatangan kami.

“Youkoso,!” ujarnya sambil membungkuk.

Saya memastikan jika beliau adalah Ibu Kuroda. Ia tersenyum ramah dan sedikit tergesa sebagaimana khas budaya Jepang ,memandu kami keluar dari stasiun menapaki jalan mendaki. Sesekali dalam bahasa Jepang ia mengingatkan kami untuk berhati-hati karena jalan licin. Tumpukan salju terlihat menutupi sebagian pepohonan dan hujan menambah suasana basah.  Saya mencoba memerhatikan sekeliling, dan hanya melihat jika satu-satunya rumah yang ada di dekat stasiun tersebut adalah rumah yang kami tuju.

IMG_6038
Bersama keluarga Kuroda di Toge, Yamagata

Dengan ramah, Ibu Kuroda mempersilahkan kami masuk, lalu menggiring kami ke dalam ruang keluarga. Ruangan terasa hangat dan sangat berbeda dengan suasana di luar yang serba putih karena tertutup salju. Ada meja berkaki pendek dan alas duduk berupa bantal-bantal tipis. Empat anak perempuan terlihat bermain, dan kami pun berkenalan. Meskipun mereka telah memperkenalkan nama satu per satu, hanya satu anak perempuan yang saya ingat namanya yaitu Sakura. Dengan cepat kami pun terlibat percakapan akrab. Sakura dan teman-temannya  dengan antusias mengajari saya beberapa kosa kata dalam bahasa Jepang. Entah mengapa saya merasa sangat lamban dalam menangkap setiap kata dalam bahasa Jepang, yang membuat Sakura dan teman-temannya tertawa karena saya selalu tidak dapat mengucapkan dengan tepat beberapa kata dalam bahasa Jepang.

Mengunjungi daerah Yamagata, seperti tercampak pada sebuah kisah drama Oshin yang populer di tahun 1980. Di Yamagata inilah kisah Oshin bermula, yaitu pada tahun 1907 saat sosok kecilnya harus bekerja sebagai pengasuh bayi pada salah satu keluarga kaya demi menambah penghasilan keluarganya. Masih basah ingatan saya, saat kecil dulu, menantikan setiap pekan kelanjutan film drama Oshin pada televisi hitam putih. Ah, saya jadi terkenang pada almarhumah Nek Mi yang juga penggemar berat film Oshin. Nek Mi akan duduk pada posisi strategis dan memastikan bahwa tidak ada seorang pun di antara kami yang berisik saat film drama Oshin ditayangkan. Kisah Oshin adalah sebuah kisah perjuangan hidup yang tidak datar. Ada banyak pedih, air  mata bahkan tak jarang darah pun harus tertumpahkan agar tetap bergerak melanjutkan hidup dan sampai pada sebuah makna.

Semangat Oshin ini saya temukan pula pada sosok Ibu Kuroda. Sosok Ibu yang tinggal di salah satu tempat paling sunyi dan dingin di area Tohoku, Ibu dua anak yang sudah dewasa sekaligus beliau sendiri pula yang mengurus pertanian keluarga.

Saya, Ibu Petani, Ibu Kurodha dan Oscar di halaman rumah di lahan pertanian Yonezawa

Ibu Kuroda memutuskan untuk mengajak kami dengan mobilnya berkeliling daerah pertanian Yonezawa, Yamagata. Ia sendiri pula yang menyetir mobil dengan terlatih menembus salju yang sudah mulai turun di sekitar daerah Toge. Ketebalan salju dapat mencapai 5 meter pada saat puncak musim dingin. Ini untuk pertama kalinya saya berkedara menembus salju yang dikemudi oleh seorang Ibu pula. Saya dan teman saling berpandangan saat sesekali terlihat jurang pada kelokan-kelokan tajam.  Untungnya perjalanan menembus salju menuju Yonezawa tidak lama, karena sudah memasuki daerah Yamagata yang lebih rendah.

Kami tiba di depan sebuah rumah yang di kelilingi oleh lahan pertanian yang luas. Setelah memarkirkan mobilnya dengan tangkas, Ibu Kuroda mengajak dan memperkenalkan kami pada sosok Ibu petani “Oshin” lainnya. Ibu petani mengajak kami berkeliling untuk melihat tanaman sayuran. Meskipun hujan dan dingin yang menggigit, Ibu petani dengan semangat menunjukkan beberapa hal unik dari pertanian mereka dan bagaimana mereka memasarkan hasilnya. Mata saya tertuju pada sebuah lahan yang ditanami rumput yang subur dan bertanya pada Ibu Petani apakah rumput-rumput yang terlihat subur itu tumbuh sendiri? Ibu Petani menjelaskan jika rumput itu sengaja ditamami oleh jenis rumput tertentu dengan tujuan untuk memelihara kesuburan tanah. Ia kemudian menjelaskan jika menjadi petani di Jepang tidaklah mudah, musim dingin adalah saat petani tidak dapat berbuat banyak selain mempersiapkan segalanya untuk musim tanam beberapa bulan ke depan. Saya terheran-heran memerhatikan beberapa pohon dan tanaman ditutupi dengan kulit kayu atau susunan kayu.

“Itu untuk melindungi tanaman tersebut agar tidak rusak dan mati saat musim dingin dengan salju yang tebal tiba.” jelas Ibu petani menjawab keheranan saya.

Tiba-tiba pikiran saya tertuju pada hal yang paling menyenangkan selama musim dingin adalah meringkuk di rumah dengan selimut tebal sambil menikmati kopi Aceh .

Hal lain yang menarik dalam perjalanan ini adalah mereka menyediakan satu space khusus untuk meletakkan hasil pertanian di sebuah tempat tidak begitu jauh dari jalan, dan menuliskan harganya pada setiap jenis sayuran, semacam “vending machine”. Setiap orang dapat membeli dan membayar sendiri sesuai dengan harga pada sebuah kotak atau kaleng yang telah disediakan. Tak ada yang menjaganya selain rasa saling percaya di antara petani dan pembeli. Harganya pun tidak terlalu mahal dan yang pasti sayurnya sangat segar. Saya dengan mudah menemukan banyak “vending machine” ini pada lahan perkebunan sayuran dan buah-buahan di daerah tersebut.

“Sebaiknya datang di musim semi,”  tambah Ibu Kuroda.

Meskipun kunjungan kami di awal musim dingin saat aktivitas pertanian sudah sedikit berkurang, namun ada banyak pelajaran dan semangat yang saya dapatkan.

 

Berdiri di depan toko Sayuran Ibu petani yang memiliki prinsip ambil dan bayar sendiri "self service"
Berdiri di depan toko Sayuran Ibu petani yang memiliki prinsip ambil dan bayar sendiri “self service”

Photo credit: Atsushi Suzuki

Advertisements

2 thoughts on “Menapak Tanah Petani “Oshin”, Yamagata

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s