Gemintang Yang Redup

Kenangan itu masih basah di ujung pikiran
Saat kau dan aku sematkan gemintang kita di langit tertinggi
Lalu waktu beranjak hingga memupus beberapa jejak kita untuk sampai ke sana
Bahkan anak-anak tangga kita terlepas satu satu

Wajah pasi kita saling menatap
Kau kata usai sudah, bahwa gemintang itu memudar
Nafas mu dan nafas ku mulai sengal, meracau mengeluarkan asap hampa
Mata mu meredup, lalu aku merangkak, tertatih.

Gemintang kita? kata ku nyinyir
Ada senyum di wajahmu, menabur asa
Aku bahkan sinis, persis mata mereka
Gemintang kita? Tanya ku nyinyir

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s