PURNAMA DI GAMPONG LAMTEUNGOH

 

Purnama di Gampong[1] Lamteungoh belum sempurna, bulatannya masih menyisakan cekungan. Cahayanyapun belum seterang purnama ramadhan tahun lalu. Sisa-sisa genangan air memendarkan cahaya yang ngilu, membentuk siluet-siluet barak yang dihuni lebih dari delapan puluh kepala keluarga yang tidak utuh lagi anggotanya akibat tsunami. Genangan air itu sudah memasuki minggu kedua sejak meugang[2].

Cut Putroe melintir beberapa ranup[3] yang dibelinya dari penjual di samping mesjid Raya Baiturrahman siang tadi . Kebiasaan memakan ranup tradisi sejak turun temurun. Untuk memperkuat gigi, begitu pesan Nek Ti. Cut Putroe membetulkan letak jilbabnya. Wajah perempuan seperempat abad itu diterpa cahaya purnama, menghasilkan pesona yang dalam, mulutnya semakin merekah saat campuran daun sirih, kapur dan gambir mulai membasahi bibirnya. Sebuah pesona begitu alami milik wanita Aceh. Tak heran jika pesona inilah menghantarkan Cut Putroe pada pilihan yang sulit.

“Peu mantong na ranup?”[4] Nek Ti muncul dari dalam barak 11C menghampiri Cut Putroe.

“Masih Nek!” Cut Putroe memberikan ranup kepada Nek Ti.

Berdua mereka duduk di depan barak menikmati malam. Desauan angin dari reruntuhan puing-puing bangunan mendendangkan lagu pilu. Anyir lumpur tsunami masih saja hinggap pada reseptor penciuman. Waktu belum mampu melenyapkan bau dari berbagai macam kekejian. Anyir itupun telah mengundang jeritan dan nyanyian pilu.

Tanpa ada ketentuan atau peraturan, selepas isya tubuh-tubuh penghuni barak lebih memilih meringkik dalam dinding yang lantainya sudah mulai berlubang menyerupai bola mata hitam yang mengawasi setiap gerak gerik mereka. Lolongan anjing sahut menyahut menyambut purnama, menambah kesempurnaan malam di Gampong Lamteungoh. Gampong yang semakin dekat dengan bibir pantai. Laut telah memangsanya dengan ganas.

Cut Putroe dan Nek Ti larut dalam kekhusyukan mengunyah ranup dengan rahang berderak. Pikiran mereka mengembara ke suatu dimensi saat dimana keluarga besar mereka masih utuh. Dua Janda berbeda jaman, harus kehilangan suami dan anak. Beruntung Nek Ti menunaikan ibadah haji saat tsunami hadir. Sementara Cut Putroe harus bertarung antara hidup dan mati di antara ribuan nyawa yang meregang.

“Apa keputusanmu Putroe?” Nek Ti memecah kesunyian.

“Belum ada Nek.”

Cut Putroe menghabiskan kunyahan terakhir ranup. Bibirnya benar-benar sudah merah, berkilau-kilau diterpa cahaya.

“Tadi ada masuk lamaran baru, Pak Burhan! Tentu Putroe sudah kenal.”

“Tapi Nek, Putroe belum siap!”

“Sampai kapan?”

“Entahlah.”

Putroe beranjak bersandar di serambi barak, menghindar dari tatapan Nek Ti. Ia memandang ke arah pohon kelapa. Satu-satunya pohon di Gampong Lamteungoh yang masih kokoh berdiri. Di pohon kelapa itu pula bayang-bayang Teuku Ismail sering muncul melambai-lambaikan tangan kepadanya. Menghasilkan kenikmatan baru bagi Cut Putroe untuk melepas rindu pada suaminya. Beberapa kali Cut Putroe memenuhi ajakan Teuku Ismail. Setiap mendekat, bayangan itu hilang, berganti nyanyian kematian. Nyanyian dari orkestra perpaduan hempasan ombak dan angin malam. Dialog-dialog jiwa menggelembungkan asa kehidupan baru bagi sebongkah nyawa pria yang belum genap setahun menikahinya.

Sebidang tanah kuburan masal bagi ribuan jasad kaku hanyalah bongkahan tanah yang tidak memberikan jawaban untuk Cut Putroe. Kesaksian Fadhil yang mengatakan bahwa Teuku Ismail adalah salah seorang penghuni kuburan masal di antara tubuh-tubuh yang tidak utuh lagi. Itu hanya alasan bagi Fadhil untuk merebut kembali cinta yang pernah ditolaknya.

Lukisan kekecewaan tergambar jelas di wajah mulus Cut Putroe. Sedih karena sudah dua minggu ini bayangan Teuku Ismail tidak muncul, sejak puasa hari pertama. Pelepah pohon kelapa tetap saja menari-nari laksana seorang putri yang sedang menyambut raja. Namun sang raja tidak muncul-muncul.

Cut Putroe menarik nafas panjang menghembuskan kekesalan dan rasa kecewa yang mendalam. Nyak Ti kembali menghampiri dan menyentuh pundaknya.

“Sudahlah Putroe, ikhlaskan saja,” hibur Nek Ti. Sesaat mata mereka beradu namun detik kemudian sama-sama tertuju pada pohon kelapa. Nek Ti maklum akan kepedihan dan kehilangan yang dirasakan Cut Putroe. Satu-satunya cucu yang tersisa itu begitu menderita.

Namun yang dikhawatirkan Nek Ti bukan sekedar rasa kehilangan Cut Putroe, tapi lebih dari itu. Dampak sosial yang sudah muncul mengingat Gampong Lamtengoh sekarang adalah gampong yang dihuni oleh banyak lelaki yang sendirian. Bahkan Gampong Lamteungoh berubah menjadi gampong duda.

Bagaimana nasib Cut Putroe di tengah srigala jantan yang sudah berbulan-bulan tidak menemukan betina. Nek Ti geleng-geleng kepala. Belum lagi janda dan gadis yang tersisapun merasa Cut Putroe sebagai ancaman. Semua lelaki membicarakan janda kembang di tengah populasi kumbang dalam puncak birahi.

Sudah banyak duda dan perjaka yang ditolak Cut Putroe. Nek Ti sempat berfikir andai saja ada laki-laki itu yang mengalamatkan lamaran kepadanya, pasti dia tidak menolak. Namun pikiran itu cepat-cepat ditepisnya. Usia enam puluh lima tahun adalah usia yang tidak muda lagi. Namun apa salahnya menggantungkan asa di langit yang jauh. Begitu pikir Nek Ti menghibur diri.

“Putroe, tadi Cek Dah singgah ke mari,” Nek Ti memberi informasi.

“Mau cari perkara apa lagi janda itu?” tanya Cut Putroe.

“Hanya mengingatkan saja, jika kamu jangan mendekati Fadhil,” jelas Nek Ti sambil meludah ke tanah, sebagian cairan merah tumpah di anak tangga. Selanjutnya Nek Ti mengganti ranup dengan sebongkah tembakau yang dikeluarkannya dari gulungan kain.

“Ya sudah, besok saya akan menjumpainya dan menyelesaikan masalah kami.” Cut Putroe memberikan jawaban, sambil bersiap-siap masuk ke dalam barak.

“Tapi…,” Nek Ti menggantung suaranya

“Tapi apa Nek?” Tanya Cut Putroe mengehentikan langkahnya di depan pintu.

“Nyak Minah juga kemari tadi siang.”

“Ada urusan apa perempuan itu?”

“Supaya kamu tidak terlalu ramah dengan Pak Munir. Sebulan lagi mereka akan menikah,” Nek Ti menjelaskan sambil menggosok-gosokkan tembakau ke giginya.

“Sudahlah Nek, Putroe bingung. Padahal lelaki-lelaki itu yang mendekati Putroe,” bela Cut Putroe.

“Iya nenek tahu itu, makanya kamu harus bisa segera memutuskan.”

“Tapi Nek.”

“Nenek juga mengerti.” Nek Ti mengakhiri dialog malam itu. Kedua janda itu memasuki barak yang berukuran empat kali empat meter.

***

Purnama gampong Lamteungoh sudah sempurna. Cahayanyapun lebih terang dari sebelumnya. Kesunyian tengah malam hanya menyisakan bunyi jangkrik.

Cut Putroe menengadahkan kepalanya ke langit hitam, purnama tersenyum mengejek. Derai air matanya mendesak-desak keluar. Rekaman peristiwa tadi siang memenuhi memorinya. Nyak Minah, Cek Dah serta beberapa perempuan barak mendatanginya beramai-ramai. Menumpahkan segala kekesalan mereka pada Cut Putroe. Sumpah serapah berhamburan dari bibir mereka.

“Janda pungo[5] kamu putroe!” Cek Dah memaki Cut Putroe yang bersembunyi di daun pintu barak.

Teubit[6] hai perempuan jalang!” Suara Cek Dah nyaring di sambut riuh redah lima orang perempuan lain. Cut Putroe hanya berdiam diri di balik pintu. Jantungnya terasa melompat. Hujan cacian tak bisa dibendung telinganya. Kepanikan naik ke ubun-ubun. Kekesalannya memuncak, ia berteriak keluar barak dengan pisau tergenggam. Membuat kerumunan perempuan berhambuaran ketakutan. Keberanian mereka tiba-tiba sirna menyaksikan kemurkaan Cut Putroe

“Apa yang kamu mau, Putroe?” Nyak Minah ketakutan tersudut. Perempuan yang lain beramai-ramai melerai Cut Putroe. Keangkuhan mereka seketika lenyap berganti bujukan ketakutan.

“Ha…ha…ha….!” Cut Putroe tertawa nyaring. Bulu kuduk perempuan-perempuan itu naik. Mereka lari tunggang langgang seperti kambing yang di kejar hujan.

Cut Putroe kembali tersadar dari lamunannya. Matanya menembus kegelapan. Tapi kini Cut Putroe mendapatkan Gampong Lamteungoh tidak seramah dulu. Saat pertemuan pertama dengan Teuku Ismail pada sebuah kesenian rakyat. Teuku Ismail begitu lincah memainkan seudati [7].

Samar-samar terdengar tiupan serunee kalee[8], diiringi rampak rapa-i[9] yang di tabuh dengan ritmis. Cut Putroe memandang sekeliling. Berusaha mencari sumber suara, memasang telinga agar gelombang suara itu bisa terdengar. Purnama membuat sketsa berlian dari bibir pantai ke tengah laut. Cut Putroe mendapatkan suara itu. Ia berlari menuju pantai. Dilihatnya Teuku Ismail memakai baju putih dengan kain songket melekat di pinggang. Topi mayang bertengger di kepala dengan gerakannya lincah. Berkali-kali tangannya direntangkan. Selanjutnya dengan gerakan cepat di dekatkan ke dada sambil mengangkat kaki.

Seudati yang dimainkan Teuku Ismail begitu harmoni, kerlingan matanya menghentikan langkah Cut Putroe. Khawatir akan pengalaman sebelumnya. Setiap mendekat maka Teuku Ismail semakin menjauh. Cut Putroe memeluk lutut kemudian jemarinya mengenggam pasir mengikuti gerak seudati. Butiran pasir berhamburan dari sela-sela jarinya. Jari tengah dan telunjuknya bertemu, menghasilkan suara petikan dengan ritme teratur.

Suara serunee kalee semakin mengelus pendengaran, rapa-ipun ditabuh dengan cepat. Gerakan Teuku Ismail semakin lincah, berputar-putar. Kakinya menari-nari. Tangannya direntangkan melambai-lambai. Cut Putroe mendekat. Kali ini keyakinannya tumbuh bahwa Teuku Ismail tidak akan meninggalkannya. Ia menembus malam, tak dihiraukannya suara-suara dari belakang. Langkahnya pasti dan penuh keyakinan. Teuku Ismail masih menari-nari. Gerakan seudati nya semakin lues. Dingin merangkak di sela-sela kaki Cut Putroe. Semakin kakinya melangkah, Dingin merayap ke tubuhnya. Cut Putroe tersenyum Teuku Ismail berhasil diraihnya. Kerinduan yang hampir setahun dipendamnya.

“Oh.. Cut Bang Ismail… Jangan lagi membuatku memendam rindu” Cut Putroe tersenyum berkali-kali.

***

Purnama telah lenyap beberapa hari, namun Cut Putroe masih menyanyikan lagu tentang purnama. Lagu purnama di Gampong Lamteungoh. Purnama Gampong Lamteungoh lebih bulat dan bersinar. Matanya kembali mencari-cari purnama dari balik terali besi. Tak dihiraukannya suara jeritan dari sudut kamar yang lain.

“Hai perempuan gila!”

“Lari…lari sunami datang! Air laut…! Air laut naik!”

Telinga Cut Putroe menangkap langkah sepatu yang semakin mendekat.

“Berapa total pasien dalam bulan ini?” Suara berat seorang laki-laki terdengar begitu lelah.

“Lima belas Dok, semua kasus tsunami” Suara perempuan memberi informasi. Langkah dua pasang sepatu semakin jelas.

“Dok, perempuan yang baru masuk tadi sudah diberi anti depresan.” Kembali suara perempuan dengan langkah tergesa, mencoba menjajari langkah di depannya.

“Cut Putroe?” tanya suara seorang lelaki.

“Iya Dok, tapi dia selalu bernyanyi tentang purnama.” Suara perempuan kembali memberi informasi.

“Tidak apa-apa, tapi jika kondisinya parah segera masukkan ke ruang isolasi.”

“Baik Dok.” Suara perempuan semakin mendekat. Bunyi pintu besi dibuka menarik perhatian Cut Putroe.

“Teuku Ismail…!” Cut Putroe berteriak sambil berlari.

[1] Kampung

[2] Tradisi mengkonsusmsi daging menyambut puasa atau hari raya

[3] Sirih

[4] Apa masih ada sirih?

[5] Gila

[6] Keluar

[7] Tari khas Aceh

[8] Alat tiup tradisional Aceh

[9] Sejenis gendang

Banda Aceh, Juni 2006

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s