SESAAT DI KAMPUNG DUDA

20130218-202327.jpg

Pak Baharuddin muncul di balik pintu shelter yang terbuat dari kayu yang sederhana, ia tersenyum dan meminta maaf kepadaku karena lama menunggu. Aku pun tersenyum menyakinkan jika sama sekali tidak keberatan karena selama menunggu aku menikmati beberapa puisi karyanya yang ditempel di sekeliling dinding. Aku menunjuk beberapa karyanya.

“Bagus Pak, buat sendiri ya?” tanyaku kepadanya.

Ia mengangguk dan tersenyum, matanya berkaca-kaca dan menarik nafas panjang.

“Puisi itu adalah ungkapan hati saya, kehilangan istri dan lima anak,” desisnya, sesaat kami masih dalam diam. Semilir angin laut menjalari pori-poriku. Aku memandang dari balik jendela. Bibir pantai terlihat begitu dekat.

“Tsunami telah memakannya,” kata Pak Bahar membaca pikiranku.

“Dulu rumah saya agak jauh dari bibir pantai, tapi lihatlah sekarang,”jelasnya menunjuk bekas-bekas pondasi rumah yang hancur. Aku mengangguk-angguk, membenarkan ucapannya.

Kuedarkan pandangan ke dinding ruangan, tempat tinggal Pak Bahar sekaligus dijadikan kantor, untuk berbagai administrasi desa Lamteungoh, Kecamatan Peukan Bada Aceh Besar.

“Ini foto siapa Pak?” tanyaku memperhatikan sosok di dalam foto.

“Ini anak saya yang kelima, mereka semuanya sudah tidak ada lagi, tinggal saya sendiri,” kali ini ia tidak mampu menahan isak tangisnya. Akupun meminta maaf karena mengingatkan kenangan keluarganya dulu. Pak Bahar menggeleng dan mengatakan jika ia tidak apa-apa.

“Dulu kampung kami Indah sekali, sembilan puluh persen lebih masyarakat di sini adalah nelayan, jadi, kampung kami adalah kampung nelayan,” katanya menjelaskan.

“Tapi itu dulu, sekarang kampung kami lebih dikenal dengan kampung duda,” tambahnya dengan senyum getir. Akupun turut tersenyum. Senyum kepahitan yang menyisakan banyak luka.

“Karena yang selamat kebanyakan laki-laki di kampug ini, jadilah kami adalah duda-duda yang merana,” kali ini tawanya bercampur dengan kesedihan.

Aku memperhatikan beberapa nelayan sedang membersihkan jala mereka. Matahari pagi terlihat berkilauan dalam kilauan laut lepas.

“Lihatlah itu, mereka semua duda,” Pak Bahar menunjuk pada sekumpulan lelaki yang asik dengan jala dan perahu mereka.

“Hari ini mereka tidak ke laut, karena hari Jumat,” info Pak Bahar lagi. Aku mengangguk. Tiba-tiba kurasakan bumi berguncang, gempa susulan pikirku. Akupun memandang laut, memperhatikan jika laut surut dan pertanda tsunami akan hadir lagi.

Pak Bahar tersenyum memperhatikan kegelisahanku. Dinding masih saja bergetar. Bahkan photo dalam bingkai di dinding berayun-ayun.

“Tidak apa-apa,” kata Pak Bahar santai. Mataku belum lepas memandang laut. Namun laut itu tetap tenang sampai akhirnya gempa itupun menghilang. Aku menarik nafas lagi dengan senyum dipaksa.

“Lalu sampai kapan kampung ini disebut kampung duda Pak?” Tanyaku mengembalikan perbincangan kami yang terhenti. Pak Bahar kembali tersenyum sesekali tangannya mengusap-usap tetesan air mata.

“Saya sudah menghimbau agar para duda itu segera menikah lagi, agar kampung kami bertambah penduduknya. Bahkan saya mengumumkan siapa yang pertama menikah akan saya bantu maharnya,”

“Alhamdulillah kemaren ada yang sudah menikah dan saya sudah tunaikan janji saya,” Pak Bahar menjelaskan.

“Wah bagus sekali programnya Pak,” pujiku tulus.

“Lalu Pak Bahar sendiri, kapan nih menambah penduduk lagi,” gurauku mencairkan suasana. Ia menggeleng dan diam, airmatanya kembali menganak sungai. Aku benar-benar tambah tidak enak hati.

“Engg Maaf Pak,” kataku hati-hati

“Tidak apa-apa, masalahnya memang saya belum bisa melupakan istri dan anak-anak saya,” isaknya.

“Doakan saja,” pintanya. Aku mengangguk dan tersenyum.

Kamipun membahas topik lain tentang cita-cita kampung Lamtengoh, program-program dan bantuan-bantuan yang sudah diberikan para donator. Tanpa terasa akupun pamit pada Pak Bahar dan tak lupa berterimakasih atas berbagai kisahnya.

“Insya Allah dalam setahun ini kampung kami tidak lagi disebut kampung duda,” katanya mengakhiri.

“Iya Pak, saya doakan!” kataku sambil mengucapkan salam.

Aku memacu sepeda motor, menelusuri kampung nelayang Lamtengoh

“Ah kampung duda,” bisikku dalam hati. Beberapa lelaki yang sedang duduk-duduk di serambi baraknya melambaikan tangan kepadaku.

Piyoh!”[1] teriak mereka, aku hanya menganggukkan kepala saja, kembali aroma laut begitu khas menyapu penciumanku.

“Ah..mereka pasti para duda juga,”

Banda Aceh, April 2005

1. Singgah

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s