TIME TO GO IS APPROACHING

Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan dibelakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar. (An-Nisa : 9)

————————————————————————-
Meski tidak selalu menyisikan waktu khusus untuk menyaksikan tayangan The Oprah Winfrey Show, saya selalu terkagum untuk beberapa tema yang diangkatnya dalam acara bincang-bincangnya yang terkenal itu.

Salah satunya adalah saat saya sejenak terhenti pada segudang haru menyelimuti dada taktkala menyaksikan tayangan The Oprah edisi seorang ibu yang divonis menderita kanker dan hidupnya diprediksi tidak lama lagi. Vonis itu benar-benar mematikan jiwanya seperti petir yang menyambar seketika. Masalahnya bukan saja kematian sedang menunggu di ambang pintu, tapi ia juga memiliki seorang suami dan putri yang sangat dicintainya dan masih telalu kecil. Tentulah kematian yang akan dihadapinya sebentar lagi akan memisahkan mereka. Yang paling mengguncangnya dalam menghadapi perpisahan ini adalah tugas sebagai seorang ibu untuk seorang putri yang cantik belum terlunaskan. Entah mengapa pula saya mencoba mendalami perasaan ibu tersebut dan menemukan jika ia pasti pernah berpikir untuk memohon pada Tuhan dan berujar

— Oh God, please not now, my daughter still need me, please wait until they are strong enough —

Ia pun menyadari jika waktu tidak dapat diajak bernegoisasi. Maut tidak akan luluh untuk keinginannya yang belum terwujud, meskipun itu sebuah keinginan yang mulia. Namun keinginannya untuk berarti bagi sang putri membuat ia menemukan cara agar putrinya dapat menerima pelajaran-pelajaran kebaikan darinya. Ia pun memburu waktu untuk merekam video dirinya yang memberikan petuah-petuah kebaikan apa saja yang harus dilakukan oleh seorang anak perempuan. Dari mulai mencukur rambut, memilih cosmetic, hingga bagaimana cara memilih seorang suami. Ia merekamnya dalam banyak sekali kaset video. Seakan-akan ia tidak ingin sedikitpun ada yang terlewatkan.

Si ibu pun menemui takdirnya, meninggalkan sang putri dan suaminya tercinta untuk selamanya. Kaset-kaset itulah kemudian menjadi jembatan antara si ibu dan putrinya dalam berkomunikasi. Anaknya pun kini telah remaja dan sang Ayah kembali jatuh cinta dan menemukan ibu pengganti bagi sang anak. Meski awalnya sulit bagi anaknya untuk menerima calon ibu baru, ternyata ibu baru tak kala baiknya dengan ibu yang selama ini membimbingnya lewat kaset-kaset video. Oprah pun mengambil tissue menghapus beberapa tetes air matanya. Saya pun tak luput dari keharuan, teringat akan anak-anak saya yang masih kecil.

Sering pula saya bertafakur saat terjaga di malam hari. Dalam sebuah perenungan itu saya berpikir, mungkin sekarang waktunya untuk pergi. Perasaan saya tersayat saat pikiran itu hadir kemudian melihat anak-anak terlelap dalam tidur yang pulas. Entah berapa kali pula saya berdoa agar Allah memberikan kesempatan untuk menyaksikan mereka tumbuh. Namun segera saya tersadar, secinta apa pun saya pada anak-anak, yang harus disadari adalah ia sesungguhnya bukan milik saya.

Dan sering pula kenyataannya saya belum begitu siap. Memikirkan banyak kemungkinan, jika saya benar-benar harus pergi. Dengan siapakah mereka tumbuh? Seperti apakah mereka melewati hari tanpa ada kasih sayang dari saya?

Saya teringat keresahan Nabi akan penyakit cinta dunia dan takut mati menjelma dalam kekhawatiran yang mengikat kebanyakan umat ini. Terlalu mengkhawatirkan kekurangan harta bagi anak-anaknya dibandingkan menghadirkan rasa cemas bagaimana keimanan anak-anak nantinya. Apakah mereka akan mampu menghadapi dunia dengan segala pesonanya? Kesadaran itu harusnya mengundang pemahaman, jika setiap detak nafas adalah kesempatan menanam bibit keimanan bagi anak-anak.

Melalui kisah seorang ibu di tayang The Oprah itu memberikan warna lain dari cara saya memahami dunia ini. Si Ibu tahu apa yang harus dilakukannya menghadapi perpisahan. Namun dengan keterbatasan waktu yang tersedia ia telah mampu menemukan cara agar jiwanya selalu hadir untuk orang-orang terkasih termasuk anaknya, bahkan menginspirasi banyak orang, jika kematian bukanlah akhir sebuah peran.

Saya perlu mentransformasi diri untuk senantiasa menemukan cara untuk selalu menebar benih-benih kebaikan untuk anak-anak saya. Agar mereka menjadi pribadi yang bukan saja tangguh tapi juga berhimpunnya semua kekuatan jiwa. Saya sadar bahwa waktunya akan tiba; bahwa time to go is approaching. Siap atau tidak. (***)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s