MENGHAPUS JEJAK KAMPUNG JANDA

image

Kampung janda. Itulah stigma yang meletak pada Gampong Cot Keng. Begitu popularnya istilah tersebut sehingga membuat nama Cot Keng menjadi terkubur, hilang dibalut stigma itu. Sehingga ketika Anda menanyakan Gampong Cot Keng, barangkali orang tidak banyak tahu. Tapi ketika disebutkan kampung janda, mungkin banyak kenangan yang akan tertoreh dari sebutan tersebut. Terutama mereka yang bergulat dengan dunia tinta yang selalu memburu setiap inchi keunikan, tentulah kampung janda bukanlah sesuatu yang asing.

Cot Keng adalah sebuah gampong sederhana yang terletak di kaki bukit Peut Sagoe, Kecamatan Bandar Dua, kabupaten Pidie Jaya. Tak begitu sulit mendapatkan kampung ini, sekitar tiga jam lebih dari Banda Aceh. Apalagi sejak setahun yang lalu sudah banyak perubahan yang terlihat. Setidaknya sejak dari jalan provinsi memasuki arah utara, jalan beraspal dapat dilalui walau masih setengahnya. Sisanya harus dilalui dengan jalan yang sedang yang saat ini dalam proses pengerasan.

Sekilas tidak terlihat sesuatu yang asing di Gampong Cot Keng sebagai mana kehidupan kampung yang lain yang terdapat di Aceh. Hamparan padi yang menghijau menyapu mata dan memberikan kesegaran. Para lelaki terlihat santai di balee-balee sambil berehat. Sementara segorombolan perempuan paruh baya berkelompok menuju sebuah pick up yang dijadikan sebagai transportasi umum penduduk Gampong Cot Keng. Nyaris tidak ada yang ganjil atau pun aroma yang aneh. Bahkan suasana Gampong Cot Keng terlihat asri, beberapa bangunan fasilitas umum seperti puskesmas dan sekolah terlihat baru.

Sejarah Kampung Janda

Penisbatan kampung janda atau pernah pula di sebut sebagai bukeet janda adalah julukan yang diberikan aparat TNI yang bertugas masa diberlakukannya Daerah Operasi Militer (DOM) di tahun 1990. Keuchik Zakaria, 54 tahun, menjelaskan awal mulanya jumlah kepala keluarga di Gampong Cot Keng 20 kepala keluarga (KK). Namun deru peluru yang liar menyebabkan 10 orang berakhir di ujung mesiu, tujuh orang melarikan diri. Ketika semua lelaki telah banyak hilang dan lari dari kampung, sejak itulah Gampong Cot Keng disebut kampung janda. Media massa pun ikut memopulerkannya, sehingga nama itu kemudian menjadi buah bibir di mana-mana.

Farida, 42 tahun, salah seorang yang terlibat sejak lama mengadvokasi Gampong Cot Keng mengisahkan, banyaknya laki-laki yang hilang dari desa itu tidak lepas dari status Cot Keng yang dianggap sebagai desa rawan. TNI menuding warga desa itu bekerjasama dan melindungi gerilyawan GAM.

Suatu ketika, menjelang Ramadhan, warga gampong bermaksud hendak memasak bubur kanji bersama di meunasah. Tradisi ini memang sudah menjadi hal yang rutin di desa itu dan beberapa desa lainnya di Aceh setiap menyambut bulan Ramadhan. Para lelaki di Gampong Cot Keng mengumpulkan sejumlah uang sumbangan dan mendata nama-nama penyumbang dalam sebuah kertas. Selain sudah dianggap hal biasa, pencatatan seperti itu dimaksudkan agar lebih memudahkan untuk pembagian bubur kanji ke setiap rumah yang ada di kampung tersebut.

Namun ternyata list kertas yang berisi nama penyumbang itu jatuh ke tangan aparat. Semua nama yang tertera dalam catatan itu dituding sebagai penyumbang dana untuk gerilyawan. Sejak itu, pemburuan terhadap kaum laki-laki di Gampong Cot Keng mulai ditingkatkan. Ada yang ditangkap, ditembak, diculik dan dianiaya. Korban pun berjatuhan. Yang masih sempat menyelamatkan diri, melarikan diri ke hutan. Inilah yang menyebabkan desa itu tidak lagi memiliki laki-laki. Hanya para istri dan kaum wanita yang masih menetap di desa. Sejak itulah desa itu dijuluki kampung janda.

Oleh karena itu, makna janda dalam hal in bukan saja karena perempuan-perempuan Gampong Cot Keng ditinggal mati suaminya akibat konflik, tapi juga karena para lelaki menghilang dari kampung tersebut dan meninggalkan istri mereka selama berbulan-bulan. Sehingga muncul anggapan kalau semua wanita dewasa di desa itu adalah janda. Inilah yang kemudian memperkuat stigma Gampong Cot Keng seakan pantas disebut sebagai kampung janda.

Merentas Jalan Harapan

Ketika mulai menjalankan aktivitas sosial di Gampong Cot Keng, Faridah tak menemukan satu pun laki-laki dewasa. Saat itu nasib para lelaki belum diketahui dan belum jelas pula apakah mereka sudah menjadi korban. Semula, diperkirakan para lelaki di desa itu sudah tewas tertembak ketika terjadi kontak senjata. Namun, ternyata sebagian dari mereka sempat melarikan diri ke Banda Aceh, Meulaboh, dan Medan. Setelah pertengahan 1997, para lelaki yang sebagian besar petani dan pencari rotan itu, mulai ada yang kembali ke kampung halamannya.

Sebenarnya banyak kampung-kampung di Aceh yang kehilangan para lelakinya. Farida Hariyani sempat bertanya ke mana para lelaki Aceh? Sosok perempuan yang memiliki semangat dan berjiwa sosial ini mengisahkan lantas sepak terjangnya dalam mengadvokasi para janda konflik Aceh, termasuk janda-janda yang ada di Gampong Cot Keng. Tak heran jika penghargaan bergengsi Yap Thiam Hien Awards, simbol untuk perjuangan gerakan Hak Asasi manusia (HAM) di Indonesia, berhasil digondolnya pada tahun 1998 silam. Langkahnya yang fenomenal adalah mengumpulkan sekitar 700 orang janda untuk dipertemukan dengan tim DPR RI yang dipimpin oleh Hari Sabarno saat mereka datang ke Aceh . Para janda itu bukan hanya dari Gampong Cot Keng, tapi juga dari desa-desa lainnya di Aceh. โ€œMalah kalau ada waktu yang lapang, saya bisa mengumpulkan janda korban konflik yang jumlahnya jauh lebih banyak dari itu,โ€ katanya.

Dengan lugas Farida bercerita ketika ia membawa belasan janda dan anak-anak yatim korban DOM Aceh untuk bersaksi di gedung DPR RI di Jakarta. Aksinya itu sontak membuka mata masyarakat terjaga dari kesadaran, bahwa nun di suatu daerah bernama Aceh, terdapat kisah pilu warga desa korban konflik. Pemeritah tentu saja tidak serta merta mempercayainya dan menilainya mengada-ada. Untuk membuktikan perjuangannya, tim DPR RI turun ke Aceh. Sebelum kedatangan wakil rakyat itu, Farida mengumpulkan para Janda korban konflik itu di Sigli. Awalnya ia cuma menargetkan hanya sekitar 200 orang janda saja termasuk janda dari Gampong Cot Keng. Namun di luar dugaan, yang datang lebih dari 700 orang membawa beragam kisah pilu mereka. Jadilah pertemuan para janda itu mengharu biru.

Dalam masa penantian itu pulalah Farida kemudian merangkul para janda. Ia lantas membentuk sebuah lembaga swadaya masyarakat bernama Yadesa (Yayasan Pembinaan Masyarakat Desa). Lembaga ini berupaya meningkatkan taraf ekonomi warga kampung dengan berbagai kegiatan, seperti ternak, pembibitan tanaman, serta pelatihan keterampilan lainnya. Pada masa konflik itu, ketika kaum lelaki tidak ada di kampung, praktis tulang punggung ekonomi keluarga beralih ke pundak para perempuan. Faridah mengisahkan bagaimana ia mencoba mengikuti para perempuan Gampong Cot Keng menjelajah hutan mencari kayu bakar. Beratnya medan yang harus ditempuh membuat aktivits perempuan ini hampir saja pingsan. Padahal dari hasil kayu bakar itu hanya diperoleh uang Rp 2.000 saja. Untuk itulah ia melatih pada janda Cot Keng dengan berbagai keterampilan, mengajarkan mereka baca tulis dan berbahasa Indonesia dengan baik.

Sejak pertengahan 1997, Faridah mulai merangkul para lelaki yang telah kembali ke kampung untuk bersama-sama membangun. Sepetak kolam ikan dijadikan salah satu usaha untuk mendapatkan pendapatan. Meski telah berupaya menjadikan warga desa hidup lebih mandiri, namun stigama Gampong Janda yang sudah melekat bertahun-tahun di desa itu tetap tidak muda lekang. Para donatur memang cukup banyak yang memberi bantuan untuk warga Desa Cot Keng, tapi bukan hal mudah untuk menata bantuan tersebut.

โ€œNamanya juga orang lama tinggal di gunung. Mereka harus dirangkul dan dibina agar dapat hidup lebih normal. Terutama dibina bagaimana di bidang pengelolaan bantuan,โ€ tambah Farida. Tidak jarang masalah bantuan itu memunculkan fitnah. Tapi ia optimis, dengan niat baik dari banyak pihak dalam membangun kembali kampung Cot Keng, perlahan-lahan desa itu akan bangkit kembali. Tinggal komunikasi yang baik antara donor dan penerima bantuan maka semua cita-cita untuk mengikis jejak kampung Janda akan terwujud.

Menghapus Stigma Kampung Janda

Stigma kampung Janda bukanlah hal yang mudah untuk diterima oleh masyarakat Cot Keng. Sama dengan tidak mudahnya menghilangkan penyebutannya. Seperti yang di ungkapkan oleh Farida bahwa penyebutan kampung janda bukanlah perkara yang mudah diterima masyarakat. Apalagi jejak damai telah pula merambah setiap lini kehidupan masyarakat Gampong Cot Keng. Pembangunan fisik yang lumayan pesat untuk ukuran kampung di Aceh. Ada spekulasi untuk menyerahkan agar biar waktu saja yang akan menghapus jejak stigma kampung janda. Namun tetap saja harus ada upaya baru sebagai pengalihan sehingga stigma Gampong Janda bisa hilang lebih cepat.

Saat ini, setelah empat tahun perdamaian, denyut kehidupan di Gampong Cot Keng memang telah banyak perubahan. Jumlah penduduknya pun sudah bertambah menjadi 200 orang atau sekitar 50 kepala keluarga. Mereka yang lari dari kampung telah kembali. Bahkan yang dulunya janda, kini sudah pula menikah dan menemukan pasangan hidup baru. Namanya juga hidup dengan segala persoalannya. Ada yang pernikahannya langgeng, ada pula yang menikah, tapi kemudian bercerai karena tidak cocok. Perdamaian yang diracik di Helsinki Agustus 2005 lalu, bagai sebuah oase bagi penduduk Cot Keng untuk dapat menata kembali kehidupan mereka yang tercabik. Para lelaki pun sudah mulai berkumpul di balee-balee untuk mendiskusikan berbagai hal. Meunasah telah pula ramai dengan kegiatan. Semua tradisi yang sempat hilang karena konflik, sudah dihidupkan kembali, termasuk tradisi memasak bubur kanji menjelang berbuka puasa. Sawah-sawah sudah menghijau, bahkan kebun mereka terlihat lebih terurus dari sebelumnya. Sekolah-sekolah pun sudah dibangun atas bantuan para donatur, bahkan sarana kesehatan telah pula tersedia. โ€œ Pokoknya Gampong Cot Keng yang sekarang jauh lebih baik dibanding sebelumnya,โ€ kata Zakaria, keuchik di gampong itu.

Namun, istilah kampung janda tetap saja sulit hilang dari desa tersebut. Sampai-sampai Nurlela, 45 tahun, warga desa itu, beberapa kali harus menahan geram tatkala mendengar kampungnya masih saja disebut dengan julukan kampung janda. Nurlela adalah salah satu saksi hidup perjalanan kisah kampung Cot Keng. Ia berkali-kali menghimbau rekan-rekannya dan juga masyarakat desa lain, agar tidak lagi menggunakan sebutan Janda pada Desa Cot Keng. โ€œKampung janda itu kan konotasinya negatif. Sudah seharusnya istilah kita tidak kita gunakan lagi,โ€ pintanya dalam beberapa pertemuan resmi di tingkat kecamatan. Begitu kesalnya, sampai-sampai Nurlela mengaku ingin membungkam mulut setiap orang yang masih saja menyebut istilah kampung janda untuk nama desanya.

ama seperti Nurlela, Farida Keuchik Zakaria dan juga masyarakat Gampong Cot Keng sebenarnya sangat berharap agar desa mereka tidak lagi dijuluki kampung janda. Biarlah julukan itu menjadi kenangan masa lalu. Melekatkan istilah kampung janda pada Gampong Cot Keng, sama saja dengan mengidentikkan desa itu dengan kisah masa lalu. Ini yang sulit diterima warga desa. Padahla desa mereka sudah jauh berubah. Warga berharap, semoga angin damai yang tengah bergaung di Aceh mampu mengikis istilah itu dan kembali ke nama aslinya, Gampong Cot Keng. (***Alfi Rahman)

Note : Jazakallah untuk akh Munirwan, Mustafa dan photografer Akh Navis….

Advertisements

2 thoughts on “MENGHAPUS JEJAK KAMPUNG JANDA

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s