BAHAGIA ITU MENULARKAN

Bahagia itu adalah rasa yang dapat dibagi pada sesama, tanpa mengurangi kualitas sumber bahagia itu sendiri. Bahkan bahagia itu mampu berlipat justru pada saat ia harus dibagi. Menularkan bahagia berarti sedang mengokohkan kebahagiaan diri sendiri.

Rasa bahagia itu adalah kumpulan persepsi positif dalam menghadapi setiap episode kehidupan. Bahagia itu adalah rasa yang dapat diciptakan, dihadirkan dan dirasakan. Makanya keadaan buruk di luar sana tak akan mampu secara tiba -tiba menjadikan rasa bahagia itu tercerabut. Namun yang harus diingat adalah memang ia tidak mudah diciptakan, untuk menghadirkan rasa bahagia itu menyatu dalam setiap detik kehidupan kita.

Saat Allah menyediakan hidup dan mati sebagai sarana untuk menseleksi siapa yang memiliki amal-amal terbaik harusnya kesadaran agar senantiasa stay on the track untuk berbuat terbaik hadir dalam setiap gagas. Karena bahagia itu hadir pada setiap amal yang terbaik. Saat segala upaya terbaik itu dicreate, maka Allah akan membuka jalan untuk hadirnya bahagia itu.

Begitu banyak orang meletakkan persepsi bahagia itu pada ukuran – ukuran materi, jabatan, dan berbagai kemudahan yang tersedia. Dengan begitu saat semua ukuran itu belum tercapai maka bahagia itu seakan berjarak dari hidupnya. Penyakit amnesia seolah-olah menghapus jejak jika banyak orang tersesat tidak bahagia karena materi berlimpah, jabatan sempurna. Padahal semua ukuran alasan kebahagiaan itu benar-benar ada pada hartanya, jabatannya, fisiknya. Tetap saja ia akan mengatakan jika harta dan segala yang banyak itu tak membuat bahagia akan hadir seketika.

Saya selalu takjub saat bertemu sosok pribadi bahagia dimana semua kehidupan yang ia miliki bahkan untuk sesederhana dan sesulit apapun itu, menuntun hadirnya bahagia dengan begitu mudah. Ketakjuban saya itu pada aura bahagianya menularkan. Dan bagi saya bertemu dengan sosok yang demikian adalah salah satu jalan untuk merasa bahagia. Saya selalu merasa beruntung saat bertemu sosok inspiratif, bersemangat, terbuka. Dengan begitu selalu ada bahagia yang tertularkan. Saya sendiri selalu membuka pintu agar mudah menerima energi bahagia itu untuk kemudian syaraf kreatifitas terstimulasikan. Lalu saya selalu tahu jika pada kreatifitas yang terstimulasikan itulah karya terbaik akan terpahatkan. Lagi-lagi bahagia itu menemukan muaranya.

Membangun persepsi bahagia memerlukan suasana. Saat semakin banyak suasana mendukung maka persepsi bahagia itu akan tertanam. Suasana perlu diciptakan, untuk menampung bahagia. Bukan hanya sekedar menampung bahagia, tapi meluberkannya kemana-mana.

Percayalah! Rasa bahagia itu menularkan, menumbuhkan tanpa mengurangi kualitas sumber bahagia itu sendiri. (***)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s