KEKUATAN CINTA BUNDA

Catatan di atas meja makan tua Bunda untuk cinta dan kerinduan yang belum tunai

Sudah enam tahun kebersamaan kami atau tepatnya saya dan Bunda, sebagai menantu dan mertua. Dan sama sekali jauh dari kisah-kisah horor perseteruan menantu dan mertua dalam kategori cerita monster in law. Karena Bunda adalah mata air kesejukan bagi saya dan keluarga selain ibu saya sendiri tentunya. Dalam rentang waktu itu pula saya mencoba secara bertahap membaca gurat keletihan hidup dan ekspresi lelah dalam wajahnya. Meski ia adalah mertua saya, namun telah banyak kisah yang saya reka dan dengar selama rentang waktu itu, sebagai rangkaian pelajaran kehidupan yang dipersembahkan dalam mengisi hari-hari keluarga kecil kami.

Membaca rekam jejak hidup Bunda, senantiasa ada jejas air mata yang hadir pada sujud malam kami. Berharap pada sebuah cita-citanya yang belum terwujud, yaitu menginjakkan kaki di tanah suci sebagaimana kerabat, tetangga dan kenalan Bunda yang begitu mudahnya melenggang ke Baitullah.

Di mata saya, Bunda adalah wanita sederhana yang luar biasa mendedikasikan sebagian hidupnya dalam perjuangan, yang memposisikannya dalam situasi yang sulit. Dan di atas meja makan tua milik Bunda yang kacanya sudah pecah akibat ulah cucu sulungnya, anak kami, telah menjadi saksi terbatanya saya mengeja keajaiban-keajaiban kisah Bunda.

Bunda adalah bintang perempuan di zamannya. Profesi sebagai seorang jaksa perempuan di masa konflik Aceh adalah posisi yang sangat langka, sulit untuk dimaknai dan dipahami oleh kebanyakan orang. Tidak mudah melupakan status Daerah Operasi Militer (DOM) atau bahasa Operasi Jaring-jaring Merah dari memori orang Aceh. Dan pada saat itulah Bunda mempersembahkan keberanian untuk mengambil peran. Jika bukan karena dedikasi dan semangat untuk tanah air ini, tentunya Bunda tidak akan mampu menjalani hari-hari yang keras, pilu dan mencekam itu. Jika bukan karena segudang cinta, menjadi jaksa adalah sebuah pilihan hidup dengan segala resikonya, tentu Bunda akan sulit untuk sekedar mengangkat kepala menghadapi episode pembuktian keluasan cinta berikutnya. Mengubur perasaan lembut perempuannya dalam menghadapi kisah-kisah pilu korban konflik. Pada masa itu pula Bunda mengenang jika rumus yang tepat untuk menghadapai itu semua adalah melapangkan jiwa.

Kelalahan menjalani tugas di persidangan itu pula membuat Bunda harus melahirkan anak ke empat di saat usia kandungannya belum genap tujuh bulan. Melahirkan anak prematur yang penuh resiko dan berat bayinya yang hanya sekilo tujuh ons adalah sebuah kenyataan baru yang harus diterima sebagai sebuah anugerah.

Dengan segenap keluasan cinta, Bunda tertatih merawat sang anak yang bukan saja fisik bayi yang lemah, tetapi berkebutuhan kusus pula akan mentalnya. Itulah adik kami tercinta Teuku Tari Perkasa, penderita tuna grahita. Bunda mampu menawarkan cintanya untuk adik yang satu ini. Menyaksikan Tari hingga kini, ibarat menyaksikan sebuah keajaiban. Tari telah menjadi prasasti hidup Bunda dalam menabung amal akibat luasnya kesabaran dan berlipatnya cinta.

Di atas meja makan tua Bunda itu pula dengan seksama saya mendengar kisah cinta Bunda yang luas itu. Betapa tidak, adik Tari baru bisa berjalan ketika usianya menginjak empat tahun. Bahkan di sepanjang malam tahun-tahun pertama kehidupan Tari dihiasi dengan tangisan yang menggema sebagai ungkapan jika ia belum sanggup terlahir ke dunia.. Dan tahun-tahun itu pula dirasa Bunda sebagai sebuah ujian yang cukup berat. Karena ia berperan ganda untuk banyak hal yang harus dilakukannya. Menjadi seorang jaksa memenuhi panggilan negara dan melayani suami serta empat orang anak yang masih kecil-kecil.

Masih membekas di ingatan Bunda saat malam mejelang, ketika ia telah berhasil menghantarkan seluruh anggota keluarga untuk pulas dalam istirahat yang damai, bukan berarti pula ia akan dapat sejenak merenggakan otot-otot yang penat setelah seharian bekerja di kantor. Tapi ia harus berjibaku dengan sebuah mesin ketik tua yang menghentak, saat tuts-tutsnya sayup-sayup membelai malam. Mempersiapkan berkas yang harus diburu untuk sidang keesokan harinya. Hingga jari-jari Bunda tak lagi selembut wanita kebanyakan, yang ada adalah kapalan-kapalan kasar bahkan sampai harus menderita asam urat pula.

Dan sepertinya ruang kesabaran dan kasih Bunda begitu luas di hadapan Allah. Cinta itu cukup untuk menerima tantangan hidup berikutnya yaitu suami dan anak ke dua mengalami kesehatan yang memburuk akibat penyakit selama bertahun-tahun pula. Suami yang sakit-sakitan ditambah anak ke dua Bunda mengalami infeksi ginjal yang harus rutin keluar masuk rumah sakit. Perhatian Bunda benar-benar terbagi untuk banyak hal. Dan karena penyakit itu pula menghantarkan suami ke peristirahatan terakhir, meninggal dunia dan setahun kemudian disusul meninggalnya anak ke dua. Cobaan kehilangan orang-orang tercinta ini tidak membuat Bunda patah arang atau pun putus asa. Bunda berkeyakinan jika semua takdir ini harus dijalani karena masih ada tiga anak yang lain yang butuh perhatian, dan tugas sebagai jaksa pun belum tuntas diselesaikan.

Di atas meja makan tua Bunda itu pula saya menyaksikan gumpalan rasa sesak yang menggedor pintu air matanya atas komentar banyak orang tidak percaya, seorang yang pernah menjadi jaksa seperti Bunda hidup di rumah sedehana dan belum naik haji pula. Karena kebanyakan teman-teman seangkatan Bunda di kejaksaan hidup di istana yang megah dan telah berkali-kali pula di antara mereka naik haji. Sulit untuk menjelaskan dalam rangkaian kata sederhana jika perjalanan hidup dan prinsip teguh di jalan kebenaran adalah jawaban untuk itu semua. Membesarkan ruang jiwa tentunya hal yang termudah untuk dilakukan, karena demikianlah kenyataannya jika Bunda mantan seorang jaksa perempuan belum bisa naik haji.

Dan pendar rindu pada tanah suci mengumpal di mata Bunda usai menghadiri walimatus safar seorang kerabat yang akan menunaikan haji. Pendar itu saya temukan atas sikap Bunda yang harus pula bersembunyi dari seorang teman sejawatnya, seorang tokoh Aceh yang kebetulan hadir di walimatus safar itu yang telah berkali-kali naik haji hanya karena khawatir akan sikap sang teman yang masih saja tidak percaya jika Bunda belum menunaikan ibadah haji atau tepatnya belum mampu secara finansial untuk menunaikannya.

Di atas meja makan tua Bunda itu pula saya tahu berapa digit angka yang ada di tabungan gaji pensiunan Bunda. Yang sering pula uang itu habis tak bersisa untuk berbagai keperluan sehari-hari. Angka-angka dalam tabungan itu dengan gamblang memberitahukan kepada saya dan istri jika belum dapat diandalkan untuk mewujudkan cita-cita Bunda ke tanah suci. Sama seperti angka-angka yang ada ditabungan kami. Mengingat itu semua ada senyum prihatin yang menghiasi wajah saya dan istri.

Dan di atas meja makan tua milik Bunda itu pula saya dan istri berharap pada doa-doa malam Bunda akan kelapangan dan kemudahan rizki agar dapat mewujudkan cita-citanya itu. Hingga akhirnya ketidakmampuan kami, anak-anaknya pun diwujudkan dengan menambah semangat Bunda bahwa kerinduan akan ka’bah adalah tebusan atas rukun Islam yang belum tertunaikan. Dengan mempertahankan kerinduan itu setidaknya menjadi semangat dan jawaban pada Allah kelak di yaumilakhir nanti.

Terima kasih Bunda untuk kisah, harapan, kerinduannya yang tertumpahkan di diskusi-diskusi meja makan tua itu. Terima kasih untuk rangkaian pelajaran kehidupan yang mengagumkan. Betapa luasnya kasih dan cinta Bunda untuk kami dan negeri ini. Semoga saya pun mampu memiliki cinta yang kuat dan luas itu untuk ditebar pada kehidupan ini (***).

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s