MENGGAMBAR AYAH

Ayah saya bukanlah seorang yang memiliki pengaruh besar dilingkungannya. Bukan pula ia seorang pengambil kebijakan atas urusan sosial dimana ia tinggal. Ia adalah salah satu warga biasa sebagaimana warga kebanyakan di kampung kami. Ia hanya seorang guru yang mengajar murid-murid kampung yang tak jauh dari rumah kami. Mungkin salah satu peran publik yang dimainkan oleh Ayah, yang terekam dalam jejak memori saya adalah ia beberapa kali ditunjuk sebagai sekretaris kepanitian desa. Yang saya tahu alasan penunjukan Ayah adalah karena tulisan tangan Ayah yang teratur, rapi dan indah. Selebihnya Ayah benar-benar menikmati perannya menjadi guru dengan gaji rendah yang kemudian sering kali pula tidak selalu cukup untuk memenuhi kebutuhan tujuh orang anak-anaknya. Saya sangat tahu melalui catatan-catatan pengeluaran Ayah yang rapi pada bukunya hariannya yang tebal jika gaji yang diterimanya pun tidak bertahan beberapa saat digenggamannya, karena harus membayar tagihan belanja bulan yang lalu. Itu pula yang menyebabkan Ayah selalu mengatakan tidak ada uang jika kami merengek minta ini dan itu.

Meskipun rengekan kami yang merajuk untuk meminta keinginan-keinginan tersier seperti mainan, televisi, sepeda, dan lain-lain jarang atau nyaris sulit untuk terpenuhi namun yang saya tangkap Ayah justru memenuhinya melalui standar kebutuhan pokok yang menurut saya di atas rata-rata orang kebanyakan di kampung kami. Ayah selalu menyediakan beras terbaik, lauk yang segar dan berkualitas. Bahkan saya tahu deretan multivitamin yang disediakan ayah memenuhi botol-botol transparan di atas meja dengan lebel yang ditulis ayah untuk menandai jika ini adalah vit B1, Vit B2, Vit B12, Vit C dan lain sebagainya. Bahkan dalam pengelolaan makanan itu pun Ayah memiliki standar dan prosedur khusus yang ia sendiri terjun untuk memasak di dapur.

Kemudian saya tahu pula kegemaran Ayah berlangganan sebuah majalah nasional yang kemudian menjadi bahan dan rujukannya dalam mendidik kami. Ayah terlihat senang jika majalah itu tiba di rumah dan meletakkannya dengan sangat hati-hati di tempat khusus. Namun saya sering pula meminjam majalah tersebut untuk dibaca. Itulah sosok Ayah yang sederhana itu.

Sampai saat ini saya masih harus melipatkan kesyukuran untuk kesempatan menikmati setiap curahan perhatian Ayah. Meskipun terkadang dulu saat saya masih kecil tatkala melihat Ayah orang lain yang menurut saya lebih keren dari ayah saya, seketika ada kekesalan di dalam diri saya mengapa ditakdirkan mendapatkan Ayah yang seperti ini. Seakan-akan Ayah adalah kumpulan kekurangan untuk ukuran pikiran anak-anak seperti saya. Padahal jika berbicara kekurangan, maka jelas saya sendiri mungkin gudang kekurangan itu sendiri, setidaknya mungkin untuk anak-anak saya. Tapi saat muara ingatan saya terlayangkan pada hal-hal yang membuat saya menjadi berfikir positif untuk segala sesuatu yang sudah menjadi kadarnya, tak lepas dari sebuah curahan kasih sayang Ayah.

Saya masih ingat ayah tak segan-segan menggedong saya dan saudara-saudara saya dengan kain panjang batik di saat adanya persepsi tabu untuk seorang lelaki melilitkan selendang di bahunya, apalagi untuk menenangkan seorang anak yang rewelnya minta ampun seperti saya. Ayah pula yang sering mengantarkan saya dan saudara-saudara saya untuk lebih terlelap menikmati malam dengan belaian dan nyanyiannya. Sampai saat ini pun saya masih merasa jika suara Ayah adalah mantra yang sempurna untuk menakhlukkan mata kami yang terkadang sulit untuk terpejam. Ayah pula yang siaga mengantarkan saya dengan sepeda tuanya ke sana ke mari untuk berbagai keperluan.

Namun kadang-kadang Ayah bukanlah orang yang secara ekspresif menyampaikan keinginannya kepada kami secara langsung. Biasanya Emak menjadi jurubicara yang diutus oleh Ayah untuk menyampaikan apa-apa yang dirasakan perlu untuk disampaikannya kepada kami. Bahkan kebisuan adalah pola komunikasi yang sering tercipta tatkla kami berhadapan muka.

Menggambar Ayah berarti sedang melukis diri sendiri untuk direfleksikan pada anak-anak saya. Saya sangat paham jika anak-anak adalah jejak karya dari orang tuanya. Saya adalah jejak dari pahatan Ayah saya, dan dengan modal itu saya pun sedang memahat sebuah jalan pada anak-anak saya. Dan saat ini saya ingin mengatakan dengan segenab hati untuk Ayah sebuah cinta yang kadang sulit untuk terungkapkan secara verbal karena alasan budaya. Terima kasih Ayah, untuk cinta yang mengakarkan. (***)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s