TAMU ISTIMEWA ISTRIKU

image

Dalam dua hari ini, istriku sedemikian sibuk untuk kemudian mulutnya tak henti menyebut tamu yang akan datang itu. Sosok perempuan yang sudah lama dikenal istriku sejak ia gadis. Perempuan sederhana dari pelosok kampung Aceh Besar, tepatnya kecamatan Indrapuri. `AJaib,` pikirnya, tak biasanya ia memberitahu kedatangannya melalui sebuah pesan pendek. Selama ini kedatangannya benar-benar seperti angin, mengejutkan kemudian terburu-buru dan berlalu. Entah hp siapa yang dipergunakannya untuk memberi tahu kedatangannya kali ini yang kemudian membuat istriku sedemikian bersemangat pula menunggunya.

Aku mengingat-ingat beberapa kali kedatangannya ke rumah pada pertemuan terakhir. Maka, data statistik yang muncul setidak-tidaknya satu hingga dua kali dalam setahun ia akan datang. Seperti angin, mengejutkan dan terburu-buru, pada sebuah pagi yang cerah. Pernah suatu ketika ia menampakkan sosoknya yang gemuk dengan tiga orang anak perempuan kecilnya terlihat lelah. Saya sendiri terheran-heran bagaimana mungkin ia mengangkut semua kerepotan itu dalam sebuah semangat. Sekotak besar langsat manis yang dia sebut sebagai hadiah kecil, hasil dari kebun di kampungnya telah ada di sudut dapur kami. Maka mengalirlah pertanyaan keherananku untuknya.

Untuk sekotak besar buah langsat itu, ia sudah mempersiapkannya sehari sebelum kedatangannya ke rumah kami. Ia harus membangunkan gadis-gadis kecilnya itu sebelum subuh, mempersiapkan mereka untuk menemaninya nanti. Usai subuh mereka pun menapak kaki selama hampir satu jam menuju jalan besar untuk bertemu angkutan umum.Tentu saja kotak langsat itu dijinjingnya, di antara segala kepayahan dan semangatnya. Sambil menghilangkan penat ia harus menunggu pula angkutan umum yang akan membawanya ke Banda Aceh. Dan kegembiraannya akan muncul tatkala ada angkutan umum yang menghampiri, menawarkan tumpangan. Sedikit negoisasi untuk harga yang pas kadang-kadang harus membuatnya puas menunggu angkutan berikutnya. Uangnya sangat terbatas untuk sebuah perjalanan penting ini. Negoisasi menjadi perlu untuk memastikan jika ada sisa uang agar ia dapat kembali ke kampungnya.

Dinginnya pagi agak sedikit terlerai saat ia dan bawaannya merebahkan semua kepenatannya di kursi angkutan umum. Satu jam perjalanan mampu mengusir lelahnya hingga sampai di tengah kota. Namun belum cukup di situ, ia harus mencari becak mesin sebagai rangkaian perjalanan akhir untuk tiba di rumah kami. Dengan karakternya seperti angin, mendadak dan terburu-buru mengucap salam di ujung pintu. Untuk kesekian kali kami pun medadak takjub. Kunjungannya pun super singkat jika dibandingkan dengan usahanya menuju rumah kami. Cukup dengan menghidangkan makanan kecil, diselingi tentang kisahnya selama ini; tentang suaminya yang sakit-sakitan, tentang sawahnya yang mulai masa panen, tentang anak-anaknya yang begitu rapat usianya, bahkan semua lelah hidup yang menyerap kemudaan usianya. Cerita itu dapat tuntas pada percakapan tahunan kami, semacam short annual meeting sebuah episode hidupnya

Istriku selalu mengingatnya melalui barang-barang layak pakai kami. Sesekali kami memberinya barang yang memang baru dan itu membuat bahagia memancar dari binar matanya. Dengan begitu ia menjadi spesial di hati istriku, menjadi tamu yang selalu ditunggu

Kami bukanlah orang yang memiliki hubungan kerabat dengannya. Baginya kami hanyalah keluarga sederhana yang menyambut setiap kedatangannya, meski hanya sesaat. Tak perlu alasan yang rumit untuk sebuah hubungan silaturahim unik ini. Cukuplah kepayahannya,beragam hasil kebun seperti sayuran, buah-buahan untuk ditukar dengan beberapa barang layak pakai dan sedikit ongkos pulang telah membuat kami berarti di matanya. Tentu saja ia akan kembali direpotkan dengan bawaan yang menggunung itu, menapak kembali jalan pulang ke kampung dan kehidupannya yang sederhana.

Dia lah Rahimah, perempuan muda beranak lima yang sederhana dari sebuah kampung sederhana di pelosok Aceh Besar selalu hadir seperti angin, mendadak dan terburu-buru. Ia sosok perempuan bersahaja menjalani hidup pada hal-hal sederhana yang membuatnya telah menemukan arti bahagia. (***)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s