RINDU MEKKAH

Airmata menderas saat takbir menandai malam Idul Adha seperti ini. Ada rindu yang membuncah saat menyebut Mekkah sebagai salah satu puncak cita-cita yang belum terwujud. Begitulah ia meletupkan harapan untuk menapaki ibadah yang umurnya setua peradaban manusia. Namun lebih dari itu impian menapak jejak-jejak sejarah Rasulullah dalam menyebarkan dakwah adalah magnet yang sedemikian dahsyat mengundang air mata kerinduan saya.

Memikirkan Ka’bah berarti usaha menuntaskan tugas sebagai seorang muslim untuk sebuah rukun. Namun bagi saya dan mungkin sebagian besar orang yang tumbuh dalam pemahaman bahwa Rasul adalah pesona yang tak habis dalam menjalankan dakwah di bumi berkah. Muhammad adalah teladan untuk semua hal dalam memahami rumitnya kehidupan masa kini. Berjilid- jilid buku belum akan menuntaskan rindu jika belum menapak tanah Mekkah, Madinah dan setiap kilometer yang dilewati Muhammad dan sahabatnya. Pada setiap jejak mereka terasa begitu bermakna untuk dilewatkan dalam sisa umur yang semakin menyempit ini. Allah, sedemikian rindunya saya untuk menghirup debu-debu yang menyapu jejak hijrah Rasul, betapa dahsyatnya imajinasi saya menghadirkan terik matahari yang menelurkan butir-butir keringat sang kekasih Allah, bahkan pada sebuah bangunan kotak yang setiap detiknya jutaan orang mengkhusyukkan diri, menghadap pada Ka’bah.

Memupuk rindu berarti sedang memperpendek tali agar semakin dekatnya jarak sejarah dan tempat. Dengan demikian akan ada ikatan yang memperkuat setiap usaha untuk mewujudkannya. Saya demikian takjub jika urusan kerinduan ini tidak hanya tertuntaskan bagi mereka yang memiliki segenab kelebihan materi duniawi. Tapi lihatlah bahwa kumpulan keping demi keping pada keringat manusia sedehana di kampung saya telah membuatnya puas untuk mendapatkan panggilan, menerbangkannya menuju tempat yang bertahun-tahun diimpikannya. Lalu semangat itu pula telah tertularkan menstimulasi semangat dan usaha untuk menuntaskan rindu ini.

Allah, tak terasa air mata kembali mengembun, pada Rasul-Mu, pada tanah yang Engkau berkahi, Mekkah dan Madinah. Di sana Rasul-Mu menungguku untuk menuntas rindu. Berikan kesempatan itu, meski hanya sekali. Amin

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s